"Kita sebagai orang tua sudah berupaya bilang 'kan hujan ini sebagai rahmat, bisa menumbuhkan tumbuhan, kita bisa minum air', tapi rasa takutnya belum hilang juga, jawabnya 'iya', tapi kelihatan pucat mukanya," katanya.
Saking takutnya akan hujan, anak bungsu Wilda justru kini sering salat. "Bahkan dia terlalu takut, dia sering salat. Sebelumnya cuma 5 kali sehari kan, sekarang jam 10.00 WIB itu 'salat lagi ya Bu'," ucapnya.
Peristiwa traumatis itu malah membuat anak sulungnya merasa sesak napas ketika hujan turun.
"Kalau yang tua (anak sulung) itu kalau dah hujan katanya sesak dadanya. Makanya saya bawa ke sini supaya dia bisa mengatasi rasa traumanya itu," katanya.
Bencana galodo yang terjadi Kamis 27 Nopember 2025 sore itu membuat paman Wilda meninggal dan istri pamannya belum ditemukan. Rumah keluarganya juga rusak tersapu galodo. ***