Kengerian di Puskesmas Koto Alam Agam: Orang Berlumpur Berdatangan, Mayat Pun Jua

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Selasa, 9 Desember 2025 | 08:25 WIB
Kondisi Puskesmas Koto Alam di Nagari Salareh Aia Timur, Palembayan, Agam, Sumatera Barat pada Kamis (27/12/2025) dipenuhi para korban banjir bandang. Tak hanya pasien yang sakit, mayat-mayat korban banjir bandang pun dibawa ke puskesmas.(Dok. Puskesmas Koto Alam/kompas.com)
Kondisi Puskesmas Koto Alam di Nagari Salareh Aia Timur, Palembayan, Agam, Sumatera Barat pada Kamis (27/12/2025) dipenuhi para korban banjir bandang. Tak hanya pasien yang sakit, mayat-mayat korban banjir bandang pun dibawa ke puskesmas.(Dok. Puskesmas Koto Alam/kompas.com)

PADANG, RIAUSATU.COM - Malam itu mencekam. Hujan turun deras. Orang-orang berlumuran lumpur berdatangan. Mayat-mayat digeletakkan di lorong-lorong puskesmas. "Tolong, Bu. Tolong, Bu," teriak keluarga pasien terdengar dari arah depan.

Mereka yang luka-luka datang. Ada yang luka parah di kepala. Ada yang luka di dagu. Bahkan, ada yang patah tulang.

Semua diantar oleh keluarga dan sanak saudaranya. Luka-luka menganga yang terkena lumpur dibersihkan dengan cairan Natrium klorida (NaCl). Luka kemudian dijahit.
Mereka menghabiskan malam di luar dan dalam puskesmas. Semua berdoa supaya situasi baik-baik saja.

Fetri Yuherna (52) tak menyangka ada di dalam kondisi semengerikan itu sepanjang hidupnya. Pikirannya kalut. Kekhawatirannya tak bisa dibendung saat mengetahui ada banjir bandang yang melanda kampungnya pada Kamis (27/12/2025) sore.

Fetri merupakan salah satu bidan di Puskesmas Koto Alam. Pada hari banjir bandang terjadi, Fetri dan rekannya, Husma (39) sebagai perawat, bertugas shift siang di puskesmas. Jam kerjanya dimulai pukul 13.30 hingga pukul 20.30 WIB.

Jelang banjir maut itu datang, teleponnya berdering. "Ada gelondongan kayu besar, ada kejadian kah, Bu?" tanya seseorang dari daerah Alahan Anggang, tak jauh dari Jorong Subarang Aia di Nagari Salareh Aia Timur, Palembayan, Agam, Sumatera Barat.

Awalnya, Fetri menjawab tak ada yang terjadi. Lima menit setelahnya, suara gemuruh terdengar di telinga Fetri. Kengerian dimulai. Saat itu, ada beberapa pasien yang dirawat di Puskesmas Koto Alam.

Mereka ketakutan. Fetri berusaha menenangkannya
Dari arah Jorong Kayu Pasak, orang-orang berlarian di jalan yang menanjak. Fetri bertanya, "Ada apa?" "Air naik," jawab orang-orang yang panik.

Pikirannya langsung mengarah ke keluarganya. Ia langsung mengeluarkan dan memacu motornya ke arah rumahnya di Jorong Koto Alam, sekitar dua kilometer dari puskesmas.
"Pergilah saya ke tempat kejadian di atas naik motor.

Sampai di sana, galodo (banjir bandang) itu sudah ada. Batu, kayu sudah bergelimpangan. Rumah orang sudah bergelimpangan di jalan," kenang Fetri saat ditemui di Puskesmas Koto Alam, Senin (7/12/2025) sore, dilansir kompas.com.

Ia memutar balik dan kembali ke arah puskesmas. Dahlia rekannya, ternyata juga khawatir dan mengecek kondisinya keluarganya.

Di puskemas, pasien-pasien Fetri mulai datang. Pasien pertama adalah seorang perempuan mengalami luka parah di bagian kepala akibat terhantam material banjir bandang.

Saat itu, listrik putus. Aliran listrik di puskesmas langsung berganti mode darurat menggunakan genset.

Mereka yang sakit langsung memenuhi ranjang-ranjang di IGD puskesmas. Lantai-lantai baik di dalam maupun puskesmas difungsikan sebagai tempat pasien tidur dengan beralaskan tikar. Mereka dirawat dengan berselimut seadanya.

Puskesmas Koto Alam pun berfungsi layaknya kamar mayat. Tak hanya korban selamat, mayat-mayat korban banjir bandang pun dievakuasi ke puskesmas.

Fetri tak sendiri. Ada Dahlia. Ada juga Muhammad Yusuf (25), assisten apoteker di Puskesmas Koto Alam, dan Vetriani (29), petugas laboratorium

Saat itu, Yusuf sudah selesai bertugas dan kembali ke rumah kontrakannya. Namun, kabar banjir bandang membuatnya kembali ke kantornya.

Yusuf bergabung dan membantu Fetri dan Dahlia menangani korban-korban yang terus berdatangan. Ia melakukan apa yang ia bisa lakukan meskipun bukan berlatar belakang paramedis.

"Waktu itu korban pertama itu cedera cukup parah di kepala. Saya tindakan juga enggak bisa. Saya cuma bisa Whatsapp dokter, kirim foto, terus tanya harus bagaimana, dan bantu Bu Fetri dan Bu Dahlia," katanya

Fetri sebetulnya berdinas hanya sampai pukul 20.30 WIB. Namun, bidan penggantinya, Popy Veronica (28) Jorong Silungkang, Nagari Tigo Koto Silungkang, Palembayan sedang berhalangan kerja karena akses jalan dari rumahnya menuju puskemas terputus karena longsor.

"Saya dinas sore sebetulnya cuma sampai pukul 20.30 WIB karena enggak ada yang masuk lagi, saya lanjut sampai hari besok," lanjut Fetri.

Sepanjang malam hingga pukul 04.00 WIB pada keesokan harinya, mereka berjibaku untuk menangani pasien. Sebanyak 50 pasien tercatat ada di puskesmas.

"Yang parah-parah itu 20 pasien yang tercatat. Selebihnya itu, kami enggak mampu lagi catat (pasien yang datang). Sampai jam 4 subuh, kami enggak tak berhenti. Mayat-mayat datang sekitar Isya sampai Subuh," katanya.

Mereka para korban yang selamat dari banjir bandang tentu berlumuran lumpur. Atas kuasa Tuhan, mereka bisa selamat. Mereka berjuang untuk berjalan di medan berlumpur yang merendam hingga satu meter lebih.

Fetri, Dahlia, Vetriani, dan Yusuf saling bekerjasama untuk menangani pasien. Fetri dan Dahlia bertugas secara medis seperti membersihkan luka, menjahit luka robek, dan lainnya. Vetriani dan Yusuf berkoordinasi untuk mendapatkan panduan medis dari tiga dokter Puskesmas Koto Alam secara jarak jauh lewat Whatsapp.

"Kami foto (kondisi pasien), cari sinyal ke depan. Kalau memang luka, hentikan pendarahan dulu, kami pasang infus. SOP-nya seperti itu," tambah Fetri.

Yusuf bercerita, ia harus mencari sinyal ke seberang puskesmas sekitar 50 meter dekat area pepohonan. Sinyal telekomunikasi pun terbatas. Sementara itu, korban-korban terus meminta tolong untuk ditangani.

Di tengah keterbatasan sumber daya manusia, Fetri dan rekan-rekannya terus berupaya semaksimal mungkin. Meskipun panik, Fetri dan rekan-rekannya terus melakukan tindakan semampunya.

"Saya sebagai bidan harus menolong pasien. Tapi insya Allah, pasien dan keluarga pasien, kami bisa tolong sedikit. Pokoknya ada ruang, bisa masuk.

"Mereka ada yang digotong, naik motor. Pokoknya malam itu ngeri di puskesmas. Di IGD puskesmas penuh korban sama mayat. Sampai tengah malam, pagi terus datang mayatnya sekitar ada 20 orang," kenang Yusuf.

"Waktu itu sehabis mayat dievakuasi, mereka taruhnya di puskesmas. Kan waktu itu belum ada posko apapun. Jadi warga tahunya ke puskesmas. itu korban datang dari Salareh Aia Timur dan Salareh Aia Induk," tambah Yusuf.

Banyak orang juga datang ke puskesmas juga untuk mencari keluarganya. Tak adanya air karena listrik terputus, mereka hanya bisa membersihkan wajahnya yang tertutup lumpur dengan air mineral atau air galon demi bisa mengenalinya.

Pasien-pasien yang luka berat baru bisa dirujuk ke rumah sakit pada hari Sabtu (29/12/2025). Akses di Palembayan yang sempat terisolir baru bisa terbuka

Kepala Puskesmas Koto Alam, NS Yelmita mengatakan, puskesmas tetap buka setiap hari selama bencana banjir bandang di Palembayan terjadi meskipun akses ke Puskesmas Koto Alam dari segala arah terisolir.

Hal itu pun berdampak kepada pelayanan. Tim paramedis Puskesmas Koto Alam seperti Poppy bahkan sejak tanggal 24 November tak bisa bertugas.

Yelmita sebagai penanggung jawab utama Puskesmas Koto Alam pun juga terjebak. Ia bercerita, dirinya bahkan baru bisa ke puskesmas pada Sabtu (29/12/2025) pagi.

"Kami sampaikan adalah tim paramedis di puskesmas. Kami diseberangkan dengan eskavator lewat simpang jembatan sampai daerah tak terkena lumpur," kata Yelmita saat ditemui di Puskesmas Koto Alam, Senin (7/12/2025) siang.

Pada saat puskesmas terisolir, pasien-pasien memenuhi ruang rawat inap dan lorong-lorongnya. Yelmita menyebutkan, mayat-mayat juga memenuhi lorong-lorong poli puskesmas.

"Pada hari Sabtu, kami rujuk pasien yang cedera ke rumah sakit, otomatis masih ada mayat dari tim SAR. Kami pindahkan ke depan IGD. Tidak lagi di poli. Kami sterilkan poli," tambah Yelmita.

Popy yang rumahnya sekitar 10 kilometer dari puskesmas, tak bisa bekerja karena banyaknya titik longsor di jalan. Ia rutin mengabarkan kondisinya di grup Whatsapp Puskesmas Koto Alam.

"Awalnya tanggal 24 November 2025, saya kabari enggak bisa masuk malam karena ada longsor. Longsor tutup jalan. Hujan deras. Itu kabari lewat grup, saya cari sinyal jalan kaki ke arah bukit karena mati listrik," kata Popy.

Pada saat akses ke puskesmas terputus, tiga perempuan dan seorang pria itulah yang berjibaku menangani para pasien dan mayat-mayat.

Sementara itu, petugas-petugas puskesmas lainnya tinggal di daerah yang aksesnya tak bisa dilalui karena ada material lumpur banjir bandang dan lumpur.

Ia pun berterima kasih atas pengabdian mereka yang berjibaku selama akses ke puskesmas terputus. Profesi paramedis adalah profesi yang telah mereka pilih dan ada beban tugas serta tanggung jawab di pundaknya.

"Kami ucapkan terima kasih sedalam-dalamnya, sebesar-sebesarnya. Kalau tak ada mereka, entah bagaimana nasib masyarakat kami. karena apa? setelah kejadian, semua yang luka-luka dibawa ke sini. Tahunya orang cuma tahu puskemas. Enggak ada yang lain," ujar Yelmita.

Popy yang seharusnya bertugas tiga jam setelah banjir bandang, mengaku pasti bakal kesulitan berada di posisi Fetri dan rekan-rekannya.

Ia baru bisa mengetahui kondisi puskesmas pada Jumat (28/12/2025) pagi lewat grup Whatsapp lantaran susahnya sinyal di daerahnya.

"Saya pasti bakal kesulitan banyak pasien kalau dinas malam itu. Secara mental, siap enggak siap harus siap tugas. Mungkin saya bisa nangis ya kalau ada di posisi itu," katanya.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

BMKG: Hujan Masih Berpotensi Mengguyur Riau

Selasa, 26 Mei 2026 | 11:05 WIB
X