"Anak itu berdiri dan menari di atas perahu, itu sama sekali tidak mudah. Kalai Anda bertanya apakah saya berani mencobanya, jawabannya tidak,” ujar Frima (35), warga Kuansing.
Naysila Ayunita Sari (18), warga lainnya, merasa bangga Dikha menjadi ikon budaya yang mendunia.
“Saya pikir sangat keren ada anak seusianya berhasil menciptakan personal branding melalui Pacu Jalur,” ujarnya. "Melalui tariannya, ia telah memperkenalkan Pacu Jalur ke seluruh dunia.”
Tingginya atensi publik terhadap Pacu Jalur tahun ini turut mendorong upaya pelestarian lingkungan. Pemerintah daerah dan aparat keamanan menertibkan aktivitas penambangan emas ilegal di sekitar Sungai Kuantan untuk menjaga kebersihan sungai menjelang perlombaan.
Bagi warga lokal, sorotan dunia terhadap Pacu Jalur menjadi sumber kebanggaan. “Saya tidak pernah menyangka semua mata tertuju pada tempat kecil di sisi barat Riau ini. Saya bersyukur Pacu Jalur kini dikenal dunia,” kata Frima.***