TNTN Direbut Kembali: Satgas PKH Dihadang, PETIR Meradang

photo author
Novrizon Burman, Riau Satu
- Rabu, 18 Juni 2025 | 10:19 WIB
Ribuan massa Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Pelalawan memadati bundaran Tugu Zapin, Pekanbaru, Rabu pagi, 18 Juni 2025, menolak relokasi dari kawasan Taman Nasional Tesso Nilo pasca disita Satgas PKH.
Ribuan massa Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Pelalawan memadati bundaran Tugu Zapin, Pekanbaru, Rabu pagi, 18 Juni 2025, menolak relokasi dari kawasan Taman Nasional Tesso Nilo pasca disita Satgas PKH.

PETIR menyebut protes massa atas penyitaan kebun sawit ilegal di TNTN ditunggangi bos besar sawit. Mereka desak Presiden Prabowo tidak tebang pilih.

PEKANBARU, RIAUSATU.COM — Di tengah mulai teriknya mentari Rabu pagi, 18 Juni 2025, ribuan massa yang menamakan dirinya Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Pelalawan memenuhi kawasan bundaran Tugu Zapin, persis depan Kantor Gubernur Riau, sambil berteriak.

Mereka menolak penyitaan kebun sawit yang selama bertahun-tahun ditanam di jantung kawasan konservasi itu. Sebagian mengaku sebagai petani kecil, menggantungkan hidup dari kebun mereka.

Namun, di balik teriakan dan spanduk protes itu, organisasi masyarakat Pemuda Tri Karya (PETIR) melihat sesuatu yang lebih besar—dan lebih gelap.

“Jangan tertipu narasi petani kecil,” kata Ketua Umum DPN PETIR, Jackson Sihombing, kepada Riau Satu, Rabu, 18 Juni 2025, di Pekanbaru.

“Kami punya data kuat bahwa sejumlah besar lahan sawit di TNTN dikuasai oleh segelintir orang yang menyamar sebagai rakyat biasa. Ada yang punya 100 hektare, bahkan satu orang menguasai 1.000 hektare di dalam kawasan taman nasional.

Jackson menduga tekanan terhadap Satgas PKH sengaja digalang oleh para bos sawit agar operasi penyitaan dihentikan.

Ia menilai Satgas harus tetap maju tanpa gentar, bahkan jika harus menghadapi kerumunan massa.

“Kami mendukung penuh Satgas PKH. TNTN harus dipulihkan. Jangan mundur karena tekanan,” tegasnya.

PETIR juga menyoroti keengganan pemerintah menindak perusahaan-perusahaan besar yang telah dilaporkan merambah kawasan hutan.

Mereka menuding ada ketimpangan dalam penegakan hukum. “Kalau masyarakat kecil disita kebunnya, kenapa korporasi yang kami laporkan justru tak disentuh?” kata Jackson.

Dia pun menyerukan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk mengambil langkah tegas.

“Kami berharap Bapak Presiden, Bapak Menteri Pertahanan, dan Bapak Jaksa Agung bersikap adil. Jangan tebang pilih. Kami siap membuka semua data.”

Taman Nasional Tesso Nilo, yang seharusnya menjadi benteng terakhir bagi harimau Sumatra dan gajah liar, telah berubah menjadi hamparan sawit.

Dari citra satelit dan laporan organisasi lingkungan, lebih dari separuh areal TNTN kini bukan lagi hutan primer. Ladang sawit membentang tanpa batas.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novrizon Burman

Tags

Rekomendasi

Terkini

Pasbar di Sumbar Diguncang Gempa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:40 WIB

Masih Dibuka, Rekrutmen Bintara PK Pria TNI AL

Jumat, 17 Juli 2026 | 16:25 WIB

BMKG: Waspada Hujan Lebat di Sebagian Besar Riau

Kamis, 16 Juli 2026 | 09:23 WIB

BMKG: Cuaca Riau Hari Ini Relatif Kondusif

Selasa, 14 Juli 2026 | 09:00 WIB
X