PEKANBARU, RIAUSATU COM - Sekitar 71 persen dari total luasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Syarif Hasyim (SSH) yang ada di Provinsi Riau, yaitu 6. 172 hektar, telah dirambah, mayoritas untuk perkebunan kelapa sawit.
Menyikapi itu, menurut Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Minas Tahura, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Riau, Dr Matnuril, pihaknya telah melakukan Konsultasi Publik Revisi Penataan Blok dan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Tahura SSH bersama instansi terkait.
"Konsultasi publik ini dimaksudkan untuk melakukan penataan blok baru di kawasan Tahura SSH. Karena berdasarkan hasil evaluasi, terhadap penataan blok yang sebelumnya banyak terjadi ketidaksesuaian dengan kondisi di lapangan saat ini," katanya.
Dilanjutkan Nuril, contoh yang terjadi di lapangan yakni terjadi konflik penguasaan non prosedural. Sehingga di lokasi tersebut tidak bisa dilakukan rehabilitasi, sehingga untuk melakukan upaya rehabilitasi melalui kemitraan harus dilakukan perubahan fungsi blok. Seperti yang dulunya blok khusus, menjadi blok rehabilitasi.
"Sehingga kemitraan konservasi untuk perbaikan ekosistem bisa diterapkan," sebutnya, dilansir dari website resmi Pemprov Riau, Kamis (31/8/2023).
Dijelaskan, saat ini di Tahura terdapat lima blok, seperti blok pemanfaatan, blok koleksi, blok perlindungan, blok rehabilitasi dan blok khusus. Untuk penataan blok terbaru ini dominasinya ada pada blok rehabilitasi.
"Karena berdasarkan hasil inventarisasi yang dilakukan oleh tim dari Universitas Riau, sekitar 71 persen kawasan Tahura SSH ini sudah dilakukan perambahan yang didominasi untuk kebun kelapa sawit," ujarnya.
Selain untuk kebun sawit, menurut Nuril, lahan yang dirambah juga dimanfaatkan untuk pemukiman, fasilitas sosial, fasilitas umum dan juga termasuk jalan desa.