“Bahkan menjadi alat rekrutmen dalam gerakan radikalisme-terorisme. Dunia maya menjadi ruang inkubasi ajaran-ajaran intoleran yang kemudian tumbuh subur melalui suara otoritas agama minus kapasitas, tapi memiliki banyak penggemar dan pengikut,” ungkapnya.
Asep mengakui, memang tak sedikit juga tokoh atau kalangan Islam moderat dan inklusif juga memaksimalkan penggunaan media sosial, tapi sayangnya perimbangannya belum cukup.
“Kelompok keagamaan yang mapan belum cukup agresif melakukan perimbangan, bahkan jika perlu menguasai medan pertarungan ideologi melalui improvisasi dan inovasi teknologi dunia digital. Ketika metode dan pendekatan kegiatan keagamaan kalangan intoleran, bahkan radikalis begitu kuat memanfaatkan teknologi informasi mutakhir, kelompok Islam moderat secara umum masih menggunakan pendekatan-pendekatan konvensional. Tak diragukan banyaknya tokoh yang mengutuk dan meluruskan faham-faham Islam destruktif di ‘daratan’, sementara perang sesungguhnya terjadi di dunia maya,” ujarnya.
Dalam menyikapi hal itu, Asep menyebutkan, setidaknta ada dua hal yang perlu dilakukan. Pertama, kalangan Islam moderat perlu bersinergi untuk merumuskan pendekatan dan strategi dakwah di ruang publik secara masif dan relevan.
“Penting bagi kalangan Islam moderat bekerjasama dan berdampingan untuk menghadapi ‘musuh bersama’ dalam bentuk faham keagamaan yang dangkal, bahkan membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.
Kedua, lanjut Asep, kalangan Islam moderat perlu membuat jaringan dan ruang-ruang publik di dunia digital yang adaptif dengan generasi milenial. Ada ruang untuk cara-cara konvensional, tapi penguatan peran di media digital merupakan keniscayaan.
“Reposisi dakwah harus dilakukan dalam keseluruhan aspek, baik itu alat, skill, juga tentu budaya kerja-kerja dakwah. Masukan ini mungkin sederhana dan bisa dianggap klise. Tapi jika diturunkan dalam rincian strategi dan direalisasikan secara serius, upaya-upaya untuk menjaga Indonesia sebagai rumah bagi Islam toleran dan moderat akan sangat terbantu,” ungkapnya. ***