“Saat ini ada dua kasus suspek di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta yang sedang diperiksa untuk konfirmasi kasusnya,” sambungnya.
Berdasarkan data Kemenkes, ketiga kematian itu juga mengalami masalah kesehatan lain, meliputi infeksi leptospirosis, kanker hati, dan kegagalan multiorgan.
Beberapa faktor risiko infeksi tersebut, mencakup pekerjaan yang berkaitan dengan kontak langsung tikus, aktivitas di area berisiko, serta wilayah dengan populasi tinggi tikus.
“Semua kasus konfirmasi mengarah ke hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS). Strain Seoul Virus,” ucap Aji.
Adapun strain lain dari Hantavirus, meliputi Sin Nombre, Hantaan, Andes, Puumala, Dobrava, dan Saarema.
Sementara itu, beberapa gejala awal dari HFRS seperti demam, sakit kepala, nyeri badan, malaise (lemas), serta ikterik atau jaundice. “Infeksi saat ini zoonotik, dari hewan ke manusia. Dari tikus,” ujar Aji.
Proses penularannya bisa melalui gigitan, saliva, urine, dan feses tikus atau celurut. Selain itu, penularan juga bisa melalui inhalasi aerosol (terhirup debu). Selain HFRS, infeksi Hantavirus dapat menyebabkan penyakit yang bernama Hanta pulmonary syndrome (HPS).
Kemenkes Aji membagikan beberapa imbauan yang perlu dilakukan oleh masyarakat Indonesia agar tidak terinfeksi Hantavirus, antara lain:
Cuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer, terapkan etika batuk dan bersin Menghindari kontak langsung dengan tikus atau celurut, termasuk kotorannya Membiasakan rutin membersihkan rumah dengan metode wet cleaning Menyimpan makanan atau minuman dengan aman, menggunakan tudung saji atau wadah tertutup
Menutup semua lubang di dalam maupun luar rumah untuk mencegah tikus atau celurut masuk ke dalam rumah
Menghindari kontak dengan sumber infeksi, termasuk saat berwisata
Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala penyakit hantavirus
Patuhi imbauan kesehatan di negara tujuan saat melakukan perjalanan.***