JAKARTA, RIAUSATU.COM - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menilai operasi modifikasi cuaca (OMC) efektif menekan intensitas curah hujan di wilayah Aceh, Sumatera Barat (Sumbar), dan Sumatera Utara (Sumut) pascabanjir dan tanah longsor yang terjadi sejak akhir November 2025.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan selama hampir satu bulan pelaksanaan OMC, terjadi penurunan signifikan jumlah hari hujan di tiga provinsi tersebut.
“Jumlah hari tanpa hujan dalam sebulan terakhir tercatat lebih banyak dibandingkan hari dengan hujan,” ujarnya dalam konferensi pers di media center tanggap darurat bencana, Kamis (25/12/2025), dikutip dari Antara, dilansir kompas.com.
Meski demikian, Abdul mengakui hujan dengan intensitas tinggi masih terjadi di sejumlah titik dan sempat memicu banjir susulan. Salah satunya terjadi di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
BNPB menilai kondisi tersebut masih sangat mungkin terjadi mengingat cuaca di sebagian besar wilayah Sumatera saat ini berada pada fase puncak musim hujan. Dinamika atmosfer yang tinggi membuat potensi hujan lebat tetap perlu diantisipasi.
Kendati demikian, BNPB memastikan operasi modifikasi cuaca akan terus dilakukan. Tim gabungan yang melibatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Tentara Nasional Indonesia masih bersiaga untuk mengendalikan potensi hujan melalui skema OMC.
“Berdasarkan informasi hingga hari ini, tidak terdapat tambahan korban maupun dampak baru di luar kejadian banjir dan longsor yang terjadi sekitar satu bulan lalu,” kata Abdul.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas kerja sama berbagai pihak dalam penanganan bencana, mulai dari pemerintah daerah, relawan, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat yang terlibat aktif dalam upaya tanggap darurat dan pemulihan pascabencana.
Di bagian lain, berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi BNPB hingga Kamis sore, bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara telah menyebabkan 489.864 jiwa mengungsi di berbagai titik pengungsian.
Jumlah korban meninggal dunia tercatat 1.135 orang, bertambah enam orang dari data sebelumnya.
Sementara korban hilang yang masih dalam pencarian berjumlah 173 orang, berkurang satu orang.
Secara rinci, di Aceh tercatat 503 orang meninggal dunia, 31 orang hilang, dan 466.667 orang mengungsi.
Di Sumatera Utara, korban meninggal mencapai 371 orang, 70 orang hilang, dan 13.262 orang mengungsi. Sementara di Sumatera Barat, terdapat 261 korban meninggal, 62 orang hilang, serta 9.935 orang mengungsi.***