Selain hujan lebat, kondisi ini juga berpotensi memicu angin kencang dan gelombang tinggi di perairan sekitar Indonesia.
Faisal menegaskan bahwa peningkatan curah hujan dan gelombang laut perlu diantisipasi oleh masyarakat, terutama yang berada di wilayah rawan bencana hidrometeorologi.
“Kami sudah menyampaikan, bekerja sama dengan BNPB, BPBD, serta Basarnas, untuk masyarakat tetap tenang selama kita dapat memantau kondisi dan selalu bersiap untuk curah hujan tinggi dan gelombang tinggi,” tegasnya.
Faisal memaparkan bahwa berdasarkan catatan BMKG, Siklon Bakung sempat mencapai kategori 3 pada 14 Desember. Drone Siluman CH-7 China,
Pada fase tersebut, kecepatan angin maksimum tercatat mencapai 65 knot, yang masuk dalam kategori sangat berbahaya.
Namun, intensitas siklon tersebut kemudian melemah kembali ke kategori 2. BMKG berharap tren pelemahan ini terus berlanjut hingga mendekati kategori 1 dan menjauh dari wilayah Indonesia.
“Ini sangat berbahaya, tapi turun lagi ke kategori 2 dan sekarang harapannya sudah mendekat ke kategori 1,” kata Faisal.
Faisal menegaskan bahwa Indonesia tidak menghadapi situasi ini sendirian. Indonesia telah ditunjuk oleh Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) sebagai Tropical Cyclone Warning Center.
Dengan status tersebut, Indonesia secara aktif berkoordinasi dan bertukar data dengan sejumlah negara, seperti Australia, Jepang, dan India.***