Untuk diketahui, gejala awal infeksi virus ini demam, batuk, pilek, sesak napas, muntah, penurunan kesadaran atau kejang pasca kepulangan (hingga 14 hari) dari India atau negara terjangkit.
Jika bergejala, Kemenkes akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Selain upaya tersebut, Kemenkes juga melakukan pemantauan dan deteksi dini jika terjadi kasus lewat Sistem Informasi Kekarantinaan Kesehatan.
"Meningkatkan pengamatan dan penemuan kasus di wilayah melalui SKDR dan surveilans sentinel penyakit infeksi emerging di Rumah Sakit," katanya.
Widyawati juga menyebutkan, pemerintah terus melakukan sosialisasi pencegahan melalui media elektronik dan melakukan deteksi ini fasilitas kesehatan yang terdapat gejala serupa terjangkit nipah.
Dewan Penasehat Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Daeng M. Faqih mengatakan, karena virus Nipah penularannya hampir sama dengan Covid-19, maka kesiapan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan cukup baik.
Pengalaman wabah Covid-19, kata Faqih, memberikan kesiapan yang lebih baik terkait dengan prosedur penanganan kasus penyakit infeksius Nipah tersebut.
"Dengan pengalaman wabah Covid kemarin, saya yakin kawan-kawan di lapangan mampu (mengatasi)," katanya kepada Kompas.com, Senin.
Namun kesiapan tersebut menuntut prasyarat.
Faqih mengatakan, kesiapan tenaga kesehatan juga harus dibarengi dengan kesiapan sarana-prasarana yang harus dipenuhi oleh negara.
Misalnya alat pelindung diri, standar operasi, dan manajemen rumah sakit yang cekatan.
Di luar kesiapan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan, Faqih juga mendorong pencegahan yang lebih maksimal.
Karena mencegah menurut dia lebih baik daripada mengobati.
"Yang concern yang sekarang saya dorong itu pemerintah, di pintu-pintu masuk itu harus dijaga betul. Kalau enggak dijaga, takut bocor itu," ucapnya.***