Ia menyebut hubungan mereka sempat dimediasi oleh Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, namun ketegangan tak pernah benar-benar mereda.
Puncaknya terjadi ketika Wahid mengungkit hubungan personal mereka di masa lalu.
“Berapa kali bapak minta maaf ke saya dan cium tangan saya?” tanya Wahid.
Kalimat itu sontak membuat suasana sidang riuh.
Hariyanto bereaksi keras.
“Saya tidak pernah minta maaf dan cium tangan bapak,” ujarnya.
Sejumlah pengunjung sidang menoleh ke arah kedua tokoh tersebut.
Abdul Wahid terlihat tersenyum tipis setelah mendengar bantahan itu.
Bagi publik, adegan tersebut mungkin tampak sebagai adu argumen biasa.
Namun bagi mereka yang mengikuti dinamika politik Riau, peristiwa itu seperti penegasan bahwa hubungan yang dahulu dibangun atas kepentingan politik kini telah berubah menjadi pertarungan terbuka.
Dan di tengah pertarungan itu, muncul satu pertanyaan yang belum terjawab: bagaimana rekaman pemeriksaan KPK yang seharusnya berada dalam ruang tertutup bisa keluar dan menjadi senjata dalam konflik politik?
Pertanyaan itu kini tidak hanya menjadi urusan Abdul Wahid atau SF Hariyanto.
Pertanyaan tersebut menyangkut kredibilitas sistem pengamanan informasi di lembaga antirasuah.
Jika benar ada kebocoran dari dalam, maka kasus ini berpotensi membuka persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar retaknya hubungan dua penguasa di Riau. ***