JAKARTA, RIAUSATU.COM – Pernyataan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, yang menegaskan bahwa Menteri BUMN Erick Thohir dan pengusaha Garibaldi "Boy" Thohir tidak terlibat dalam dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan BBM di PT Pertamina (Persero), menuai kritik tajam.
Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman, menilai pernyataan tersebut terlalu dini dan dapat memicu kecurigaan publik.
"Banyak komentar di berbagai grup WhatsApp yang menyoroti sikap Jampidsus, seolah-olah bertindak seperti pengacara calon tersangka," ungkap Yusri, Kamis (6/3/2025).
Menurut Yusri, di tahun 2025 ini muncul pola baru di kalangan aparat penegak hukum yang cepat menyatakan seseorang tidak terlibat sebelum proses hukum tuntas. Ia mencontohkan kasus pagar laut yang sebelumnya juga disimpulkan secara prematur oleh pihak berwenang.
"Masih banyak saksi kunci yang belum diperiksa oleh penyidik Pidsus Kejagung, sehingga pernyataan Jampidsus ini terlalu dini dan bisa menimbulkan kesan adanya intervensi," tambahnya.
Yusri menekankan bahwa ada tiga saksi penting yang seharusnya diperiksa lebih dulu, terutama jika keterangan sembilan tersangka yang sudah ditetapkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tidak memberikan informasi signifikan.
Selain itu, penyidik juga harus meneliti bukti dari perangkat elektronik yang telah disita untuk memastikan tidak ada keterkaitan dengan Erick Thohir dan Boy Thohir.
"Penyidik seharusnya segera memanggil mantan Komisaris Utama Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), mantan Dirut Pertamina, Nicke Widyawati, serta seorang figur yang dikenal sebagai Mister James untuk memberikan kesaksian," kata Yusri.
Yusri juga menyoroti pernyataan Ahok yang mengklaim memiliki banyak bukti mengenai keterlibatan beberapa pejabat subholding Pertamina yang kini menjadi tersangka.
Ia menduga ada hubungan erat antara para pejabat tersebut dengan pihak di Kementerian terkait.
"Biasanya, keterangan saksi kunci seperti ini akan dikonfrontir dengan para tersangka oleh penyidik untuk memperjelas fakta yang ada," tambahnya.
Lebih lanjut, Yusri menyebut bahwa Ahok dapat mengungkap praktik promosi dan penempatan pejabat strategis di Pertamina yang berkaitan dengan bisnis impor minyak mentah, BBM, dan LPG.
Ia juga berharap Ahok mau terbuka mengenai pertemuannya dengan seorang tokoh penting di rumah pengusaha Ricardo Galael pada 2022.
"Informasi yang kami peroleh menyebutkan bahwa dalam pertemuan tersebut, ada upaya membujuk Ahok untuk menutup mata terhadap proses pengadaan minyak mentah, BBM, dan LPG. Namun, Ahok disebut-sebut menolak permintaan itu mentah-mentah," ujar Yusri.