Usai Tusuk Gurunya hingga Tewas, Santri Ini Menangis

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Jumat, 17 Mei 2024 | 15:29 WIB
Ilustrasi garis polisi. (f: kompas.com)
Ilustrasi garis polisi. (f: kompas.com)

PALANGKARAYA, RIAUSATU.COM - Seorang santri di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, berinisial F (13), menusuk guru pesantrennya hingga tewas pada Selasa (14/5/2024) sekitar pukul 23.00 WIB. 

Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta) Palangkaraya Kombes Pol Budi Santosa mengatakan, pelaku menangis usai melakukan perbuatan itu. 

"Berdasarkan keterangan saksi, pelaku sedang duduk di dekat pintu kamar korban dan menangis karena menyesali perbuatannya," ujarnya, Kamis (16/5/2024), dikutip dari Tribun Kalteng, dilansir kompas.com.

Penusukan itu diketahui setelah korban berinisial N (35) menangis dan meminta tolong. Tangisan didengar seorang ustaz. 

Peristiwa tersebut terjadi di kamar tempat tinggal korban, yang masih berada dalam lingkungan pondok pesantren. 

Malam itu, pelaku masuk rumah korban melalui jendela yang tidak terkunci.  Dia lalu mendatangi korban yang sedang tidur, sambil membawa senjata tajam yang pelaku ambil dari dapur rumah korban. Mengenai motif penusukan, polisi menduga pelaku bertindak karena dendam terhadap korban. 

"Sampai saat ini yang diketahui berdasarkan keterangan pelaku, yang menjadi motif pelaku untuk melakukan perbuatan tersebut karena rasa benci dan dendam dengan kejadian pada Desember 2023 lalu," ucapnya. 

Kala itu, pelaku mendapat hukuman dari korban karena pelanggaran yang dilakukan. Mengenai bentuk pelanggarannya, Budi menuturkan bahwa polisi masih menyelidikinya. 

Budi menjelaskan, berdasarkan keterangan pengurus, belum pernah ada tindak kekerasan terjadi di lingkungan pondok pesantren tersebut. "Dari pengakuan pengurus di pesantren tersebut tidak ada kekerasan sebelumnya, dan yang menyebabkan pelaku berbuat hal seperti karena respons dari sanksi yang diberikan," ungkapnya. 

Kini, polisi tengah menyelidiki kasus pembunuhan ini. Polisi juga berencana memeriksa kondisi kejiwaan pelaku. Oleh karena itu, Polresta Palangkaraya sudah bekerja sama dengan Balai Pemasyarakatan (Bapas) dan psikolog dari Ditkrimum Polda Kalimantan Tengah. 

"Sejauh ini kondisi kejiwaan pelaku normal tapi kita sedang mendalami kejadian ini," tuturnya.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

X