PEKANBARU, RIAUSATU.COM - Delapan orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal dari Malaysia diamankan di perairan Sungai Bagan, Kabupaten Rokan Hilir pada Sabtu (3/02/2024).
Dirpolairud Polda Riau Kombes Pol Wahyu Prihatmaka mengatakan, kedelapan orang tersebut menaiki KM Nelayan Jaya II yang dinahkodai oleh pria berinisial S (58).
"Ke delapan PMI Ilegal itu datang dari Malaysia dan akan dibawa menuju ke Bagan Siapiapi tanpa melalui tempat pemeriksaan Imigrasi sebagaimana mestinya," ujar Kombes Wahyu.
Lanjut dikatakan Kombes Wahyu, kapal KM Nelayan Jaya II tersebut selanjutnya diamankan ke Satpolairud Polres Rohil di Bagan Siapiapi. Sedangkan S dan kedelapan PMI ilegal tersebut lalu dibawa ke kantor Subdit Gakkum Ditpolairud Polda Riau untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Dari hasil pemeriksaan, warga negara Malaysia berinisial BL merupakan agen yang memberangkatkan para PMI ilegal untuk pulang ke Indonesia.
"Para PMI ilegal ini disuruh membayar 2.200 - 2.400 Ringgit Malaysia atau sekitar Rp7 juta per orang," kata Kombes Wahyu.
Lalu oleh agen di Indonesia berinisial D mengirimkan foto PMI Ilegal tersebut untuk dibuatkan buku pelaut.
Setelah selesai, buku pelaut tersebut diserahkan D kepada tersangka S untuk dibawa ke Malaysia saat akan menjemput PMI ilegal.
Modusnya, buku pelaut itu digunakan untuk mengelabui petugas jika ada pemeriksaan dalam perjalanan dengan cara seolah-olah para PMI ilegal itu merupakan anak buah kapal (ABK).
"Tersangka S ini menerima upah dari D sebesar Rp1 juta per orang," ungkap Kombes Wahyu.
Sementara Kepala BP3MI Riau Fanny Wahyu Kurniawan mengapresiasi keberhasilan Ditpolair Polda Riau yang berhasil mengungkap kasus ini.
"Kasus ini perlu diusut lebih lanjut, siapa orang di balik sindikat yang telah memfasilitasi pembuatan buku pelaut itu. Sebab buku pelaut ini harusnya hanya dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan yang diperuntukkan untuk ABK.
"Para penegak hukum akan menelusuri apakah ini benar buku resmi yang dikeluarkan instansi terkait atau palsu. Selanjutnya para korban akan kami data untuk mengetahui kronologis awalnya sebelum dikembalikan ke wilayah asal mereka," kata Fanny.