Siswi SMP Ini Dirundung 7 Temannya, Dihujani Pukulan dan Tendangan hingga Tersungkur

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Kamis, 5 Oktober 2023 | 10:46 WIB
Ilustrasi perundungan. (f: republika.co.id)
Ilustrasi perundungan. (f: republika.co.id)

BEKASI, RIAUSATU.COM - Kasus perundungan kembali terjadi di Kabupaten Bekasi. Kali ini menimpa DR (12), salah seorang siswa sekolah menengah pertama di Cikarang Utara yang dirundung oleh tujuh temannya.

Ironisnya, perundungan itu didasari karena para pelaku cemburu lantaran korban banyak disenangi di sekolahnya. Terlebih korban dinilai rupawan.

“Saya sakit hati melihat anak saya dibegituin, diperlakukan secara keji,” ujar Sumiyati (36), orangtua korban saat ditemui di kediaman kerabatnya di Cikarang, Rabu 4 Oktober 2023.

Menurut Sumiyati, perundungan itu terjadi sekira dua pekan lalu. Hanya saja, dirinya pun baru mengetahui perundungan itu beberapa hari terakhir. Itu setelah melihat ponsel sang anak.

Betapa kaget Sumiyati melihat anaknya dirundung oleh tujuh orang temannya. Perundungan itu pun lantas divideokan oleh salah seorang pelaku. Tidak lama, video perundungan ini pun menyebar di media sosial.

“Sempat kaget pas liat video anak saya dipukul secara keji seperti itu, bagaimana pun juga saya tidak terima dengan perlakuan terhadap anak saya,” kata dia, dilansir Pikiran-Rakyat.com.

Dalam video berdurasi 61 detik itu memerlihatkan para remaja perempuan yang mengenakan pakaian bebas merundung seorang korban, DR. Korban nampak dihujani pukulan dan tendangan oleh para pelaku hingga tersungkur.

Tidak henti sampai di situ, korban lantas diinjak-injak di bagian dada dan punggung. Kepala korban pun tak luput dari sasaran para pelaku.

Sumiyati mengatakan bahwa sejak beberapa hari terakhir anaknya memang terlihat murung, menutup diri dan tidak mau sekolah. Belakangan, sang anak mengeluhkan sakit di dada namun tidak menjelaskan penyebab rasa sakitnya.

“Anak saya tiba-tiba menutup diri, pas saya tanya awalnya enggak ngaku pas ngerasain sakit di perut dan sesak nafas,” kata dia.

Akhirnya Sumiyati membuka ponsel sang anak dan menemukan video perundungan anaknya. “Pas lihat video, saya langsung kaget dan sakit hati saya,” ucap dia.

Pihak keluarga sempat melaporkan video tersebut pada pihak sekolah. Namun, kata Sumiyati, pihak sekolah terkesan lepas tangan lantaran perundungan dilakukan di luar lingkungan sekolah dan di luar jam belajar.

“Awalnya pihak sekolah tidak mau menyelesaikan masalah ini, alasan di luar wilayah sekolah, maka kami sepakat untuk melaporkan kejadian ini ke Polres Metro Bekasi," katanya.

Akan tetapi akhirnya pihak sekolah mau membantu mediasi dengan didampingi perwakilan Bhabinkamtibmas dan Babinsa setempat. Sumiyati yang mencoba memerjuangkan keadilan untuk anaknya, akhirnya tidak berdaya sehingga kasusnya berakhir dengan kekeluargaan.

DR sendiri bukan merupakan siswa dari keluarga yang berada. Ayahnya sejak lama terserang stroke dan sang ibu tidak memiliki penghasilan tetap. Sehingga mereka tidak memiliki pilihan lain dan menyanggupi kasus perundungan diselesaikan secara damai dan kompensasi biaya pengobatan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

X