PEKANBARU, RIAUSATU.COM - Bermula dari usaha kecil-kecilan dengan topangan modal awal Rp200.000, berkat kegigihan dan keyakinan yang tinggi jualan es buah Hana Dhiya (21) pernah mencapai omzet tertinggi, yaitu Rp20 juta per bulan.
Bermula di 2018, saat Hana memulai usahnya, yang ketika itu belum memiliki banyak pelanggan. Tapi lama-kelamaan, produk es buahnya semakin dikenal banyak orang ketika Hana memasarkannya lewat media sosial (medsos). Para pelanggannya, yang didominasi ibu-ibu muda asal Pekanbaru dan sekitarnya, memesan lewat Instagram.
Pemasaran lewat media sosial juga memungkinkan Hana untuk mempromosikan produknya secara luas. Hana sering mendapatkan pelanggan dari daerah yang relatif jauh.
"Misalnya aja ada pembeli jauh dari daerah Riau, Kerinci, dan Dumai,” kata Hana. Menurutnya, es buah produksinya bisa tahan hingga 8 jam perjalanan.
Hana mengatakan, seberapa lama es buah bisa bertahan bergantung pada kualitas bahan bakunya. Oleh karena itu, Hana membeli bahan baku terbaik di pasar agar es buahnya bisa bertahan lama. Hana mengatakan, es buahnya bisa bertahan hingga satu bulan jika disimpan di freezer.
Hana menuturkan, hari-hari besar adalah salah satu momen ketika es buahnya banyak dipesan. Saat Lebaran misalnya, Hana mengaku banyak menerima pesanan es buah paket family pack yang berukuran besar.
Dari usahanya, Hana mendapatkan banyak relasi seperti berkenalan dengan orang baru, rekan-rekan bisnis, dan mitra UMKM lainnya. Dari relasi inilah penjualannya kian meningkat.
Selama empat tahun menjalankan usaha es buah, pelanggannya kian banyak. Omzet yang ia raih tidak selalu sama setiap bulannya, namun, ia pernah mendapatkan omzet tertinggi yakni Rp20.000.000 per bulan.
Saat pandemi Covid-19 melanda, omzet yang didapatkan Hana sedikit menurun dari biasanya. Namun, tidak dengan semangatnya untuk terus menjalankan usaha tersebut.
“Memulai usaha itu sebenarnya mudah, untuk konsisten dalam hal tersebut itu yang susah. Selain konsisten, kita juga harus sering-sering branding produk kita," tuturnya, sebagaimana dilansir Pikiran.Rakyat.com.
Konsistensi itu membuat usahanya bertahan hingga kini. Saat ini, Hana dibantu oleh 4 karyawan dalam memproduksi es buah.
Usaha es buah miliknya sudah mendaftar NIB (Nomer Induk Berusaha) dan sedang mendaftarkan izin BPOM. Hana mengatakan, pemerintah setempat sejauh ini cukup memfasilitasi penyuluhan BPOM bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah seperti dirinya.
Kendati begitu, Hana berharap pemerintah setempat bisa lebih memfasilitasi pelaku UMKM terutama soal perizinan dan menyediak tempat yang bisa dijadikan toko offline. Memasuki tahun 2023, Hana amat ingin memiliki toko offline setelah empat tahun berjualan lewat media sosial. ***