ekonomi

RI Diserbu Dana Asing Saat Ekonomi Global Kalut, Ini Alasannya

Senin, 25 Juli 2016 | 13:12 WIB

JAKARTA, RIAUSATU.COM-Ekonomi dunia masih penuh ketidakpastian, apalagi selepas referendum Inggris yang keluar dari Uni Eropa atau dikenal dengan Brexit. Namun, aliran dana asing justru berbondong-bondong masuk ke dalam negeri.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Juda Agung menjelaskan, pasca Brexit terjadi, perekonomian global dan beberapa negara langsung terpengaruh. Di antaranya adalah Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, China, dan India.

Khusus untuk AS, Bank Sentral The Federal Reserve (The Fed) mulai berpikir ulang untuk menaikkan suku bunga acuan. Ada kekhawatiran, bila hal itu dilakukan maka mendorong penguatan dolar AS terlalu tajam dan justru memperburuk perekonomian AS.

Sehingga besar kemungkinan kenaikan suku bunga baru akan dilakukan tahun depan. Ini artinya, ada ketidakpastian yang masih akan menghantui dalam beberapa waktu ke depan.

Dalam kondisi tersebut, ternyata investor justru memilih negara berkembang untuk penempatan dana. Salah satunya adalah Indonesia.

''Kalau global seperti ini, capital inflow sekarang pilihannya di emerging market yang mana. Indonesia akhirnya menjadi destinasi menarik. Bukan dari sisi fundamental ekonomi saja tapi prospek ekonomi ke depan,'' ungkap Juda dalam seminar perekonomian terkini di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (25/7/2016), sebagaimana dilansir detikFinance.

Sisi fundamental ekonomi, Juda menjelaskan, inflasi masih berada realisasi yang terjaga sampai dengan Juni 2016. Meskipun ada risiko dari pergerakan harga makanan, namun sampai dengan akhir tahun masih akan berkisar pada level 4%.

''Inflasi masih pada kisaran 4%,'' imbuhnya.

Kemudian defisit transaksi berjalan pada kuartal II -2016 diperkirakan 2,1% terhadap PDB. Sedangkan secara akumulasi 2016 diperkirakan sebesar 2,2% terhadap PDB.

''Fundamental makro kita terlihat terjaga, maka memberikan persepsi positif untuk market,'' ujarnya.

Di samping itu, pemberlakukan program pengampunan pajak atau tax amnesty juga mendorong persepsi positif tersebut. Maka dari itu sampai dengan 18 Juli 2016, arus dana asing yang masuk sudah mencapai Rp 110 triliun.

''Market memang tidak seoptimis berapa jumlah yang akan masuk tapi akan memberikan dampak positif terhadap fiskal dan dana yang digunakan untuk pembiayaan pembangunan dan penguatan rupiah,'' tegas Juda. (dri)


Tags

Terkini