JAKARTA, RIAUSATU.COM-Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai efisiensi yang dilakukan oleh PT PLN (Persero) masih belum optimal. Hal ini terbukti dengan masih tingginya Biaya Pokok Produksi (BPP) listrik.
''Dalam 3 tahun terakhir kan efisiensi PLN belum mencapai target. Losses (penyusutan) dikurangi terus,'' ujar Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian ESDM, Sujatmiko, di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (15/6).
Sujatmiko menjelaskan, penyusutan yang dialami oleh PLN diakibatkan oleh banyaknya mesin-mesin yang sudah tua sehingga perlu diganti. Untuk itu, PLN perlu fokus menangani permasalahan tersebut guna membuat Biaya Pokok Produksi (BPP) listrik lebih murah.
''Kalau kita dari pemerintah mendorong dengan perbaikan-perbaikan peralatan dan juga mesin-mesin di PLN. Sehingga, makin banyak pencurian atau ilegal listrik yang berkurang. Diharapkan itu bisa mengurangi penyusutan. BPPnya juga bisa dimaintain pada tingkat subsidinya yang tidak membengkak,'' jelasnya, sebagaimana dilansir merdeka.com.
Dia menegaskan, efisiensi tersebut perlu dilakukan karena subsidi listrik tahun ini dipastikan mengalami pembengkakan. Sebab, dana sebesar Rp 38,39 triliun yang dialokasikan dalam APBN 2016 tidak mencukupi untuk menutupi subsidi tahun ini.
Apalagi pemerintah belum mengambil sikap perihal pencabutan subsidi listrik untuk pelanggan 900 volt ampere (VA) yang rencananya akan dilakukan pada tahun ini. Di sisi lain, ada dorongan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) agar tarif listrik 900 VA tidak dinaikkan.
''Atas dasar-dasar itu, yang bisa kita lakukan pasti mendorong efisiensi,'' pungkasnya. (dri)