ekonomi

Harga Minyak Dunia Kembali Turun Akibat Aksi Ambil Untung

Redaktur
Jumat, 27 Mei 2016 | 11:35 WIB

JAKARTA, RIAUSATU.COM-Harga minyak kembali turun di bawah USD 50 per barel. Penurunan tersebut akibat adanya aksi ambil untung, setelah sehari sebelumnya harga minyak naik di atas USD 50 per barel.

Harga minyak turun tipis karena para pedagang mencari alasan untuk mengunci keuntungan setelah reli kenaikan baru-baru ini. Harga minyak telah meningkat hampir 90 persen dari posisi terendah pada awal 2016.

Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli berakhir turun delapan sen dari penutupan Rabu menjadi USD 49,48 per barel di New York Mercantile Exchange, setelah berhasil menembus tingkat USD 50 pada awal sesi.

Di London, patokan Eropa, minyak Brent North Sea untuk pengiriman Juli juga sempat terdorong di atas ambang batas USD 50, namun kemudian turun 15 sen menjadi ditutup pada USD 49,59 per barel.

Minyak berhasil menembus level 50 dolar AS menyusul penghentian produksi minyak di Kanada, Nigeria dan di tempat lain selama satu bulan terakhir, dan pengurangan tajam produksi AS yang telah memperketat pasokan. Tetapi itu hanya menandai pemulihan parsial di pasar, setelah harga runtuh dari di atas USD 100 per barel pada pertengahan 2014.

Kontrak berjangka minyak mendekati tingkat 25 dolar AS per barel pada Februari, karena keputusan kebijakan oleh Arab Saudi dan kekuatan broker lainnya dalam OPEC yang menentang pengurangan produksi, mereka berusaha untuk mempertahankan pangsa pasar dengan harga berapapun. Mereka telah mempertahankan kelebihan pasokan dalam rangka memaksa keluar produsen-produsen yang lebih mahal, khususnya di Amerika Utara.

Beberapa analis skeptis harga minyak akan terus naik. Meskipun, pekan lalu terjadi penurunan dalam stok minyak, persediaan minyak AS tetap berada di dekat tertinggi dalam sejarah.

Faktor-faktor lainnya meliputi peningkatan produksi di Iran dan prospek permintaan yang tidak pasti di Tiongkok serta pasar-pasar utama lainnya.

''Saya pikir orang merasa mungkin 50 dolar AS adalah jenis dari titik jual di mana orang-orang yang telah membuat keuntungan mereka akan keluar dari pasar. Jadi mungkin bertindak sebagai batas atas sementara,'' ujar Strategic Energy & Economic Research Mike Lynch seperti dilansir Antara, Jumat (27/5), sebagaimana dilansir merdeka.com.

Para analis juga mengingatkan bahwa pergerakan harga di atas USD 50 per barel bisa memicu beberapa produsen minyak serpih atau ''shale oil'' di Amerika Serikat untuk melanjutkan kembali produksi mereka setelah menghentikan operasinya karena harga rendah. Mereka juga melihat bahwa OPEC mungkin tidak bergerak untuk membatasi atau mengurangi produksi di KTT Juni di Wina seperti yang beberapa harapkan.

Pasokan minyak mentah AS pekan lalu berkurang 4,2 juta barel menjadi 537,1 juta barel, dan produksi minyak mentah negara itu menurun 24.000 barel menjadi 8,767 juta barel per hari pekan lalu. (dri)

Tags

Terkini