ekonomi

Ingin RI Mandiri Pangan? Kementan: Jangan Bergantung Sama Nasi

Redaktur
Jumat, 7 Agustus 2015 | 11:42 WIB

JAKARTA, RIAUSATU.COM-Belum sarapan kalau belum makan nasi. Kebiasaan demikian masih dianut sebagian besar masyarakat Indonesia.

Padahal, jika ingin mandiri pangan, Indonesia tidak bisa hanya bergantung dengan bahan pokok yaitu beras. Indonesia kaya akan bahan pangan substitusi beras untuk memenuhi asupan karbohodrat.

''Hari ini kita sampaikan pesan diversifikasi (penganekaragaman) pangan. Kalau mau mandiri pangan, ngga bisa bergantung hanya dari bahan pangan pokok (nasi) saja. Kita punya banyak alternatif pangan lokal sumber karbohidrat lainnya yang bisa diolah menjadi menu bergizi seimbang. Kemandirian pangan itu kalau kebutuhan pangan bisa diproduksi dalam negeri,'' ujar Gardjita Budi, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, ketika ditemui detikFinance usai acara senam dan sarapan sehat bersama di lapangan Kementerian Pertanian, Jumat (7/8/2015).

Gardjita menjelaskan, tidak hanya bisa produksi sebesar-besarnya, kemandirian pangan artinya juga masyarakat bisa mengakses bahan pangan tersebut.

''Barangnya ada, harga terjangkau, dan jumlahnya harus cukup,'' tambahnya, sebagaimana dilansir detikFinance.

Menurut Gardjita, BKP terus mengenalkan sumber pangan untuk mengurangi ketergantungan akan beras, kedelai dan jagung.

''Ketiga komoditas tersebut masih impor, sementara jagung harus bersaing dengan pakan ternak sapi maupun unggas,'' jelasnya.

Sumber karbohidrat nasi bisa digantikan dengan aneka umbi-umbian, singkong, dan sagu.

''Semua sedang dikenbangkan supaya cita rasanya bisa diterima sehingga makan nggak harus nasi. Kita kembangkan produksi tepung casava (mocaf) meski masih skala kecil di Trenggalek. Kami kenalkan singkong bisa jadi bahan kue yang cita rasanya mirip tepung umumnya,'' terang Gardjita.

Gardjita menerangkan, RI punya potensi beras komoditas singkong yang bahkan sudah ekspor.

''Singkong sudah ekspor meski bentuknya mentah. Impor singkong itu berupa chip dan corn flake (sereal jagung),'' tambahnya.

Kemudian alternatif sumber protein, Gardjita menjelaskan banyak tersedia di sekitar kita namun belum disadari masyarakat.

''Sumber protein hewani masih didominasi daging, padahal ada telor, bebek, puyuh, kelinci bahkan belalang. Belalang juga sumber protein tinggi. Di Gunung Kidul, Yogyakarta, belalang dijadikan masakan. Di Thailand, belalang disate jadi cemilan,'' paparnya.

Lalu sumber protein nabati, menurut Gardjita tidak bisa bergantung dengan kedelai yang selama ini 70% masih ekspor.

''Kedelai harus disubstitusi. Impornya masih besar. Perut indonesia terus nambah dari Kanada, Amerika. Selain itu, lahan yang cocok ditanam kedelai juga cocok untuk tanam padi jadi ada kompetisi. Tapi produksi dua-duanya aman bahkan surplus karena ada penambahan areal tanam,'' tutupnya. (dri)



Tags

Terkini