"Volume pengiriman masih sangat tertekan setelah gencatan senjata singkat pada pertengahan Juni. Hal ini membatasi ekspor dari Timur Tengah dan memaksa pengiriman minyak Arab Saudi melalui rute Terusan Suez yang lebih panjang dan lebih mahal," ujar Hodes.
Data Kpler menunjukkan kurang dari 10 kapal pengangkut komoditas melintasi Selat Hormuz setiap hari selama akhir pekan.
Angka itu jauh di bawah kondisi normal.
Analis SEB Research Ole Hvalbye mengatakan arus minyak saat ini hanya sekitar 15 persen dari level sebelum perang, dibandingkan kondisi normal sekitar 20 juta barrel per hari untuk minyak mentah, kondensat, dan produk olahan.
"Jeda politik tidak serta-merta menambah satu barrel pun minyak yang mengalir saat ini," kata Hvalbye.
Di sisi lain, lalu lintas kapal di Selat Bab el-Mandeb juga kembali menurun setelah kelompok Houthi di Yaman mengeklaim menyerang fasilitas minyak Arab Saudi di pesisir Laut Merah.
Sementara itu, Kazakhstan yang merupakan salah satu dari 10 produsen minyak terbesar dunia sempat memangkas lebih dari separuh produksi hariannya setelah terminal ekspor utama di Laut Hitam ditutup akibat serangan drone.
Namun, Kementerian Energi Kazakhstan kemudian menyatakan terminal Caspian Pipeline Consortium telah kembali beroperasi dan memulai kembali proses pemuatan minyak.***