Algoritma akhirnya menciptakan ilusi bahwa semua orang sedang untung, padahal banyak investor mungkin sedang menyimpan kerugian tanpa pernah mengunggahnya.
Gen Z tidak perlu menjauhi investasi digital.
Justru akses investasi yang semakin terbuka merupakan peluang besar untuk membangun kemandirian finansial sejak muda. Namun, investasi harus diperlakukan sebagai proses pengambilan keputusan, bukan permainan mengikuti tren.
Investor muda perlu menetapkan tujuan, memahami profil risiko, menentukan jangka waktu investasi, dan tidak menggunakan dana yang dibutuhkan untuk kebutuhan penting.
Sebelum menekan tombol beli, ada tiga pertanyaan yang perlu diajukan: apakah saya memahami aset ini, apakah saya siap jika nilainya turun, dan apakah saya membeli berdasarkan data atau hanya karena takut tertinggal?.
Tiga pertanyaan tersebut mungkin sederhana, tetapi dapat menjadi pembatas antara investor yang membangun masa depan dan investor yang sekadar mengejar keramaian.
Teknologi memang membuat investasi dapat dilakukan dalam satu sentuhan jari. Namun, keputusan investasi tidak seharusnya dibuat secepat satu sentuhan jari.
Pasar tidak selalu menghukum orang yang terlambat masuk. Pasar justru lebih sering menghukum orang yang masuk tanpa memahami alasan, risiko, dan nilai aset yang dibelinya. ***
(Rahmi Anggi & Monalisa, Mahasiswa Magister Manajemen, Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning).