ekonomi

Hasil Studi: Ekspor Pasir Laut Bawa Petaka bagi Masyarakat

Jumat, 4 Oktober 2024 | 12:55 WIB
Ilustrasi pasir laut. (f: kompas.com)

JAKARTA, RIAUSATU.COM - Studi terbaru yang dirilis Center of Economic and Law Studies (CELIOS) pada Rabu 2 Oktober 2024 menunjukkan bahwa ekspor pasir laut dapat merugikan rakyat, terutama nelayan.

Sebab, setiap peningkatan ekspor pasir laut berisiko mengurangi produksi perikanan tangkap. Akibat adanya ekspor pasir laut sejumlah 2,7 juta m3, ada penurunan nilai tambah bruto sektor perikanan yang ditaksir mencapai Rp1,59 triliun.

Pendapatan nelayan yang hilang pun ditaksir mencapai Rp990 miliar, dan berkurangnya lapangan pekerjaan di sektor perikanan sebesar 36.400 orang.

“Ekspor pasir laut justru berisiko menciptakan pengangguran di kawasan pesisir. Model penambangan pasir laut dengan kapal isap dan pengangkutan tongkang juga cenderung padat modal (capital intensive) bukan padat karya (labor intensive)," ujar Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira.

"Tidak ada korelasi ekspor pasir laut dengan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berdaya saing," ucapnya menambahkan, dilansir pikiran-rakyat.com.

Lebih lanjut penambangan pasir laut menyebabkan degradasi ekosistem laut yang berdampak pada perikanan tangkap. Masyarakat pesisir, terutama nelayan, terancam kehilangan mata pencaharian akibat penurunan hasil tangkapan ikan.

“Data historis sebelumnya pada tahun 2001 hingga 2009 ikut menunjukkan korelasi negatif antara peningkatan ekspor pasir laut dan produksi perikanan tangkap.” ujar Bhima Yudhistira.

Selain itu, Bhima Yudhistira mengungkapkan bahwa penambangan pasir laut juga berdampak pada kerusakan habitat laut yang sulit untuk diperbaiki dalam jangka panjang.

“Indonesia akan kehilangan potensi Blue Carbon dan ekosistem ekonomi biru jika eksploitasi pasir laut dilanjutkan. Padahal diperkirakan Indonesia memiliki potensi 17 persen karbon biru dari total seluruh dunia, setara 3.4 Giga ton," tuturnya.

"Hal ini selaras dengan target pemerintahan kedepan yang ingin mengoptimalkan kredit karbon 65 miliar dolar AS atau Rp994,5 triliun," kata Bhima Yudhistira menambahkan.

Oleh karena itu opsi pembangunan pesisir dan kelautan secara berkelanjutan jauh lebih menguntungkan dibandingkan praktik ekspor pasir laut yang merusak ekosistem ekonomi biru.***

Tags

Terkini