Menurutnya, mobil diesel keluaran terbaru umumnya telah dirancang untuk menggunakan campuran biodiesel berkadar tinggi, sedangkan kendaraan yang lebih tua berpotensi mengalami penurunan performa.
“Karakteristik biodiesel yang lebih kental dapat memengaruhi proses pembakaran,” kata Wahyudi.
"Pada kendaraan yang lebih lama, kondisi ini berpotensi menyebabkan penurunan performa dan tenaga dibandingkan ketika menggunakan solar murni," lanjutnya.
Ia juga mengingatkan, kualitas biodiesel harus tetap terjaga karena endapan pada sistem bahan bakar dapat mempercepat penyumbatan filter.
Menurut Wahyudi, tantangan utama implementasi B50 bukan berasal dari pengguna, melainkan dari konsistensi mutu biodiesel selama proses produksi dan distribusi.
“Pengguna kendaraan pada dasarnya tidak perlu melakukan penyesuaian khusus," kata Wahyudi.
"Yang lebih penting adalah memastikan kualitas biodiesel yang beredar tetap baik dan sesuai standar. Jika kualitasnya terjaga, dampak negatif terhadap kendaraan dapat diminimalkan,” pungkasnya.***