Masuk Peralihan Musim yang Bisa Picu Cuaca Ekstrem, BMKG Minta Masyarakat Waspada

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Minggu, 29 Januari 2023 | 14:49 WIB
 ILustrasi cuaca ekstrem. (f: int)
ILustrasi cuaca ekstrem. (f: int)


JAKARTA, RIAUSATU.COM - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, mengimbau masyarakat agar dapat meningkatkan kewaspadaaan untuk menghadapi transisi pergantian musim dari musim hujan ke musim kemarau. Diketahui, sebagian besar wilayah di pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara akan mengalami periode transisi dari musim hujan ke musim kemarau yang akan terjadi pada Maret, April, dan Mei 2023..

Imbauan tersebut terlebih ditujukan untuk masyarakat yang tinggal di wilayah Sulawesi, Papua barat bagian utara, dan sebagian kecil wilayah Papua. Menurut Dwikorita, transisi musim tersebut menimbulkan fenomena cuaca ekstrem, seperti angin puting beliung, angin kencang, hujan lebat dengan periode singkat yang memicu bencana hidrometeorologi.

Sebagai informasi, masyarakat pun diminta untuk bersiap menghadapi musim kemarau. Diketahui, musim kemarau pada tahun ini diprediksi akan lebih kering jika dibandingkan dengan masa 3 tahun berturut-turut sebelumnya.

“Mulai saat ini, saat masih musim hujan, seluruh pihak, seluruh masyarakat berupaya bersama dengan Pemerintah Daerah memanen air hujan, menyimpan air hujan yang turun untuk memenuhi waduk-waduk, embung-embung, kolam-kolam, untuk diresapkan itu jangan disia-siakan langsung lari ke laut atau ke sungai," kata Dwikorita, dikutip pada Sabtu, 28 Januari 2023.

Puncak musim kemarau akan berlangsung pada Juni dan Juli, berlanjut hingga September. Hal tersebut pun akan terjadi di hampir seluruh wilayah di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Kalimantan.

Terkait dengan musim kemarau, BMKG pun telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk melakukan modifikasi cuaca saat terjadi kemarau kering. Adapun, sejumlah pihak tersebut adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Adapun, teknologi modifikasi cuaca yang dimaksudkan tersebut adalah dengan menyemai garam saat awan hujan sudah berada di dekat waduk, sehingga nantinya hujan akan masuk ke dalam waduk.

"Waduk-waduk diisi penuh jangan sampai awannya lewat saja, sehingga kalau turun nanti membanjiri tempat lain. Tetapi mumpung mendekat ke waduk (hujan) dipaksa turun, sehingga saat turun jatuhnya tepat masuk ke danau agar bisa disimpan," ujar Dwikorita.

"Jadi, konsepnya adalah menyimpan dan menampung air hujan yang diperlukan saat nanti kita kekurangan air," ucapnya.

Dwikorita mengatakan bahwa selama musim kemarau, masyarakat pun dapat mengoptimalkan air permukaan. Hal tersebut dapat dilakukan komunitas masyarakat, terlebih yang berada di desa-desa.

"Saya lihat sendiri di desa-desa mereka melakukan pemanenan air hujan. Ada yang membuat bendungan, sehingga airnya bisa dikumpulkan di situ, ada pintu airnya, kalau berlebih dilepas untuk irigasi. Nanti kalau kemarau sudah nggak ada hujan kita sudah punya tabungan (air)," tuturnya seperti dilaporkan Antara, dilansir Pikiran-Rakyat.com.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

Pasbar di Sumbar Diguncang Gempa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:40 WIB

Masih Dibuka, Rekrutmen Bintara PK Pria TNI AL

Jumat, 17 Juli 2026 | 16:25 WIB

BMKG: Waspada Hujan Lebat di Sebagian Besar Riau

Kamis, 16 Juli 2026 | 09:23 WIB

BMKG: Cuaca Riau Hari Ini Relatif Kondusif

Selasa, 14 Juli 2026 | 09:00 WIB
X