peristiwa

Derita Nenek Mujiati Hidup Sebatang Kara di Rumah Reyot

Redaktur
Jumat, 24 Juni 2016 | 13:11 WIB

MALANG, RIAUSATU.COM-Nenek Mujiati (75) tinggal sebatang kara dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Dia tinggal seorang diri di sebuah rumah yang nyaris roboh dan tanpa penerangan listrik. Di dalam rumah itu ada beberapa ekor ayam yang dipeliharanya.

Tempat tinggal Mujiati berada di RT 52/ RW 12 Dusun Ngandeng, Desa Dawuhan, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Lokasi rumahnya pun jauh dari rumah penduduk dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.

Kondisi rumah nenek Mujiyati itu sangat tidak layak untuk tempat tinggal. Tiang-tiang penyangga rumah tidak lagi tegak dan gentingnya sebagian sudah jatuh. Setiap saat rumah itu bisa roboh dan menimpa nenek malang ini.

Rumah nenek Mujianti hanya ditutupi anyaman bambu yang sudah lapuk. Rumah itu berukuran 2,5 M X 3 M, dengan pintu yang sudah rusak dan sulit dibuka.

Tumpukan kayu berserakan diletakkan di sisi belakang rumahnya. Sebagian sisa kayu digunakan memasak dengan sebuah tungku mungil. Nenek Mujiati mengaku selama ini biasa memasak dengan kayu bakar.

Di kala musim hujan, rumah itu menjadi satu-satunya tempat berlindung. Mujiati tinggal seorang diri dan tidur beralaskan dipan seadanya.

''Kalau hujan ya di sini saja, ndak ke mana-mana,'' ucap Mujiati saat ditemui di rumahnya beberapa hari lalu, sebagaimana dilansir merdeka.com.

Meski memiliki usia lanjut, kondisi fisik nenek Mujiati tampak sehat dengan aktivitas sehari-hari yang penuh energik. Dibandingkan orang lain seusianya, perempuan satu anak ini memiliki ketahanan fisik berlebih.

Setiap hari Mujiati tidur di rumah yang nyaris terbuka dinding-dindignya. Begitu bangun tidur di pagi hari, langsung memasak untuk dirinya sendiri.

Hawa dingin udara pegunungan Semeru tidak pernah dirasakannya, kendati akhir-akhir ini serasa menusuk sampai ke tulang. Aktivitas itu dilakukan sejak keluarganya masih lengkap.

''Kondisi Mbok Mujiati ini berubah saat suaminya pergi. Dia hanya tinggal bersama bayinya, yang sekarang sudah besar,'' kata Nenek Siti, tetanga terdekatnya.

Kini anak satu-satunya itu bekerja di Tulungagung dan hanya sesekali pulang ke rumah. Anaknya sendiri dalam kondisi serba kekurangan, sehingga tidak dapat diharapkan.

Ketua RT 52, tempat Mujiati tinggal, Bambang mengungkapkan para tetangga terdekat biasa memberikan santunan untuk kehidupannya. Pemerintah setempat juga memberi bantuan raskin.

''Khusus ibu Mujiati tidak ditebus (bayar), kalau keluarga lain memang harus membayar,'' kata Bambang.

Nenek Mujiati sebenarnya sudah dibuatkan rumah yang lebih layak dan representatif. Namun yang bersangkutan menolak menempati, karena merasa bukan miliknya. Kendati dipaksa yang bersangkutan tetap menolak untuk pindah.

Karena kondisi rumahnya yang membahayakan, warga setempat berencana membongkar rumah tersebut. Rumah akan diperbaiki, agar yang bersangkutan bersedia menempati rumahnya sendiri.

''Kemungkinan minggu depan akan dibongkar,'' kata Bambang. (dri)

Tags

Terkini

BMKG: Hujan Masih Berpotensi Mengguyur Riau

Selasa, 26 Mei 2026 | 11:05 WIB