Pernyataan tersebut merupakan klaim Rida yang belum dapat diverifikasi secara independen.
Dalam keterangannya, Rida turut menyoroti proses pengambilalihan sejumlah aset utama Riau Pos Group yang menurutnya dilakukan dengan harga jauh di bawah nilai pasar.
Ia mencontohkan Gedung Graha Pena Batam yang diperkirakan bernilai sekitar Rp200 miliar, namun disebut diakuisisi dengan nilai sekitar Rp80 miliar.
Hal serupa, lanjutnya, terjadi terhadap Gedung Graha Pena Pekanbaru yang diperkirakan bernilai sekitar Rp150 miliar, tetapi menurutnya hanya diambil alih dengan nilai sekitar Rp60 miliar.
Rida menilai perusahaan lokal milik karyawan, seperti PT Riau Pos Multi Karya dan PT Batam Pos Multi Karya, tidak memiliki posisi tawar sehingga harus menerima keputusan tersebut.
Selain persoalan aset, Rida mengaku prihatin terhadap kondisi perusahaan yang menurutnya terus mengalami kemunduran.
Ia mengklaim Harian Riau Pos tidak lagi berkantor di Gedung Graha Pena yang dahulu menjadi simbol perkembangan perusahaan, sementara Batam Pos juga telah meninggalkan gedung yang sebelumnya ditempati.
Menurut Rida, sejumlah karyawan turut terdampak melalui kebijakan perumahan maupun pensiun dini.
Ia menyebut hak-hak pekerja belum seluruhnya dipenuhi dan sebagian masih dibayarkan secara bertahap.
Di tengah konflik tersebut, Rida kini menghadapi proses hukum setelah dilaporkan atas dugaan penggelapan dana perusahaan saat menjabat sebagai Chairman Riau Pos Group.
Meski demikian, ia menegaskan akan mengikuti seluruh proses hukum yang berjalan.
"Saya serahkan semuanya kepada proses hukum. Biarlah pengadilan nanti yang membuktikan," katanya.
Rida menilai perkara yang menjeratnya tidak dapat dipisahkan dari sikapnya yang selama ini menentang sejumlah kebijakan manajemen.
Ia juga menduga dirinya diperlakukan tidak adil karena dianggap memiliki kedekatan dengan pendiri Jawa Pos, Dahlan Iskan.
Selain dirinya, Rida menyebut sejumlah pendiri lain, seperti almarhum Zulmansyah Sekedang, Sutrianto, Makmur Kasim, dan Asnida Syukur, juga mengalami perlakuan yang menurutnya tidak mencerminkan penghargaan terhadap orang-orang yang membangun Riau Pos Group sejak awal.