PEKANBARU, RIAUSATU.COM – Setelah Kamis (13/6/2024) sekitar 300-an mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Riau (UIR) berunjuk rasa menyoroti kinerja Pj Gubernur Riau (Gubri) SF Hariyanto, pada Jumat (14/6/2024) malam, aksi serupa kembali terjadi.
Kali ini, mereka yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara Riau menggelar aksi di depan Rumah Dinas Gubernur Riau pada Jumat (14/06/2024) malam, sekira pukul 21.00 WIB.
Aksi ini dihadiri oleh perwakilan aliansi BEM Nusantara Riau. Dalam kesempatan itu, mereka menegaskan tentang pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam mengawasi kinerja pemerintahan.
Dalam tuntutannya, mereka antara lain mendesak Pj Gubri SF Hariyanto segera mengundurkan diri dari jabatannya karena dianggap tidak netral dan sudah tidak pantas memimpin.
Nanang, Korda BEM Nusantara Riau, mengatakan aksi demo tersebut mereka lakukan bertolak dari kekhawatiran akan potensi pengaruh politik dalam pengambilan keputusan.
Dikatakan Nanang, BEM Nusantara Riau memandang bahwa netralitas adalah aspek krusial dalam menjaga integritas dan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pemerintahan.
"Kami menuntut agar Pj Gubri mengundurkan diri, karena seharusnya seorang Pj Gubernur yang ditunjuk haruslah bisa bersikap netral, adil, dan transparan demi kepentingan bersama," ungkapnya.
Namun, menurut Nanang, hal tersebut sudah tidak dijalankan oleh Pj Gubri SF Haryanto.
"Riau sudah banyak masalah, jangan ditambah lagi dengan Pj Gubri yang bermasalah," ujar Nanang.
Dikatakan Nanang, BEM Nusantara Riau menilai, tindakan yang dilakukan oleh Pj Gubri SF Haryanto dapat merusak kepercayaan publik terhadap integritas pejabat publik dan aparatur sipil negara (ASN).
Para mahasiswa juga menyampaikan kepada aparat penegak hukum untuk memanggil SF Hariyanto atas dugaan jual beli jabatan dan proyek di lingkup Pemerintah Provinsi Riau.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan dari pihak Pj Gubri terkait aksi BEM Nusantara Riau pada malam kemarin itu.
"Jika tuntutan kami tidak direspon dengan baik, maka kami akan menggelar aksi susulan dengan massa yang lebih banyak lagi," kata Nanang.
"Dan jika usul ditolak, tanpa ada pertimbangan, hanya ada satu kata, yaitu lawan!" tandas Nanang. ***