Kapolda Herry, Sampah Pekanbaru, dan Sebait Pantun Pagi Itu

photo author
Novrizon Burman, Riau Satu
- Senin, 14 April 2025 | 11:48 WIB
Tangkapan layar video Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan di depan tumpukan sampah di Jalan Diponegoro Pekanbaru, Senin, 14 April 2025.
Tangkapan layar video Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan di depan tumpukan sampah di Jalan Diponegoro Pekanbaru, Senin, 14 April 2025.

PEKANBARU, RIAUSATU.COM – Pagi itu, Senin, 14 April 2025, Irjen Pol Herry Heryawan berlari seperti biasa di salah satu ruang publik di Pekanbaru.

Napasnya teratur, langkahnya mantap. Tapi, bukan detak jantung atau keringat yang membuatnya berhenti.

Ada yang lebih menyengat dari kelelahan: tumpukan sampah yang masih berdiri angkuh, tak bergeser seinci pun sejak ia melewati tempat yang sama pekan lalu—bahkan sebulan lalu.

Kapolda Riau itu lalu menoleh, menarik napas, dan melontarkan sebuah pantun. Bukan sekadar pantun hiburan, tapi pantun peringatan.

"Dari Batanghari menggunakan troli, hendak berkumpul untuk berembuk, Kapolda berlari sambil patroli, menemukan sampah yang bertumpuk-tumpuk."

Bukan main. Pantun itu bukan hiasan, melainkan sindiran. Jengkel, geram, bercampur satu.

Perintah khusus pun meluncur dari mulut orang nomor satu di Polda Riau itu ke Direktur Kriminal Khusus Polda Riau, Kombes Ade Kuncoro Ridwan.

“Tolong dicek, Pak Dir Krimsus,” kata Herry. “Cek bagaimana tata kelolanya. Ini sudah satu bulan saya lari di sini, tapi kondisinya masih tetap begini.”

Herry tak sedang melontarkan perintah sembarangan. Ia ingin ada yang bertanggung jawab atas sampah yang seolah dibiarkan menjadi ornamen kota.

Ia ingin tahu mengapa pengelolaan sampah publik seburuk itu, dan siapa yang membiarkannya.

Kombes Ade pun langsung bergerak. Pulbaket, atau pengumpulan data dan bahan keterangan, langsung digelar hari itu juga.

“Kami akan menyelidiki pihak-pihak yang bertanggung jawab,” ujarnya kemudian. “Apakah ada kelalaian, atau unsur lain yang membuat sampah ini bertahan sekian lama?”

Ini bukan semata urusan estetika taman kota. Dalam diam, sampah menumpuk menyimpan risiko: bau busuk, lalat, dan penyakit.

Dalam diam pula, pengelolaan yang buruk bisa menjadi cermin rapuhnya tata kelola Kota Pekanbaru, peninggalan Wali Kota Pekanbaru sebelumnya: Firdaus.

Irjen Herry menutup kunjungan singkatnya dengan kalimat pendek yang khas, dengan nada yang lebih berat ketimbang kata-katanya: “Salam akal sehat. Salam sehat.” ***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novrizon Burman

Tags

Rekomendasi

Terkini

Pasbar di Sumbar Diguncang Gempa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:40 WIB

Masih Dibuka, Rekrutmen Bintara PK Pria TNI AL

Jumat, 17 Juli 2026 | 16:25 WIB

BMKG: Waspada Hujan Lebat di Sebagian Besar Riau

Kamis, 16 Juli 2026 | 09:23 WIB

BMKG: Cuaca Riau Hari Ini Relatif Kondusif

Selasa, 14 Juli 2026 | 09:00 WIB
X