SEMARANG, RIAUSATU.COM - Semangat menggelora dari tujuh mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) yang tengah menjalankan kerja magang di Jepang. Tepatnya di Seawood Hotel, Miyakojima.
Mereka adalah Ariessy Aprilia, Rachma Aprilia, dan Tasinta (Yasinta) Febrianti berasal dari Sekolah Vokasi Undip serta Keisha Pranesti, Zlusda Amelia, Maria Claretha, dan Silvia Ivana dari Fakultas Ilmu Budaya.
Ketujuh mahasiswa ini, seperti dilansir kompas.com, mendapat kunjungan kejutan dari tim monitoring Undip pada 15-20 September lalu untuk meninjau perkembangan magang mereka.
Tim dipimpin oleh Dekan Sekolah Vokasi Undip Prof. Dr. Ir. Budiyono, M.Si. dan Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Prof. Dr. Alamsyah, S.S., M.Hum., didampingi dosen Prodi Bahasa Jepang Sriwahyu Istana Trahutami, S.S., M. Hum. dan Budi Mulyadi, S.Pd. M.Hum.
“Saya tidak menyangka akan kehadiran Bapak dan Ibu dosen. Rasanya seperti bertemu orang tua,” ungkap salah satu mahasiswa dengan mata berkaca-kaca yang tak disebutkan namanya, dilansir Undip.ac.id, Senin (22/9/2025), dirilis kompas.com.
Ketika ditanya bagaimana rasanya magang di Jepang, mereka kompak menjawab penuh bangga “Rasanya seperti mimpi. Tidak terbayang sebelumnya bisa magang di Jepang,” ujar mereka.
Namun bukan tanpa tantangan. Mereka menyebut ritme kerja di Negeri Sakura keras dan disiplin yang ketat.
“Di sini gajinya lumayan. Mumpung masih muda, kami ingin menabung sebanyak-banyaknya. Masih magang saja kisarannya sekitar Rp15–25 juta per bulan,” kata seorang peserta.
Bukan sekadar membantu karyawan, mahasiswa magang Undip turut dilibatkan berinovasi pada menu hotel. “Saya diberi kesempatan menciptakan salah satu menu dan langsung disajikan untuk tamu. Saya sangat bangga. Ini membuka peluang bisnis kuliner ke depan,” ujar Yasinta.
Di samping keseruan dan rasa bangga, kata Yasinta, ada pula teman yang merasa kurang betah. Umumnya karena beban kerja dan homesick.Prof Budiyono menyampaikan pesan dan menegaskan pentingnya mental SIAP (Sopan, Integritas, Adaptif, dan Pantang Menyerah) sebagai bekal global.
“Dengan sikap ini, kita akan nyaman bekerja di manapun di seluruh dunia,” ucap Prof Budiyono. Prof Alamsyah menambahkan bahwa bahasa dan budaya adalah kunci daya saing.
“Penguasaan bahasa dan pemahaman budaya kerja Jepang membuat mahasiswa Undip lebih percaya diri, cepat beradaptasi, dan dihargai oleh industri. Pengalaman setahun magang ini adalah jembatan emas menuju kesiapan karier global,” ucap Prof Alamsyah.***