"Memang benar apa yang dikatakan Margaret Thatcher, kemerdekaan tak akan berfungsi sebelum adanya kekuatan ekonomi. Tapi, kalimat dari Thatcher itu sedang ditempuh Indonesia saat ini," katanya.
Pengusaha muda ini menambahkan, sebuah negeri yang ingin maju individunya harus diarahkan untuk memiliki kekuatan intuisi dan imajinasi, dengan dorongan seperti mencintai kegiatan yang hari ini kita lakukan.
"Kita harus punya tekad untuk meninggalkan jejak sejarah di alam semesta, kita harus memeras otak kita karena manusia biasa hanya menggunakan 5-6 persen kapasitas otaknya. Kita harus maksimalkan kapasitas otak, naikkan sampai 20-60 persen," cakapnya.
"Di sisi lain kita juga harus berani berfikir berbeda khususnya soal karya dalam bidang teknologi dan pendidikan. Dan, yang pasti kita harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami banyak orang," ungkapnya.
Sekali lagi, Fahd mengutip lirik lagu Indonesia Raya, “Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Bangsanya". Dia menjabarkan, kemerdekaan suatu negara dapat dijamin teguh berdiri apabila berpangkal pada kemerdekaan jiwa.
"Jadi, jiwa jiwa muda harus dibangun untuk dimasukkan ke dalam pikiran bawah sadarnya Indonesia wajib menjadi negara maju dan mengejar ketertinggalan dari bangsa bangsa lain."
Dia yakin dan percaya bahwa Indonesia adalah bangsa yang mampu memaksimalkan kekuatan akal pikirnya. Dia lantas menceriterakan sejarah .
Ada sebuah negara yang merampok individu-individu berkualitas dari Jerman, yaitu bangsa Amerika. Bangsa Amerika mengumpulkan dan merekrut ilmuwan dan insinyur Jerman yang berjumlah sekitar 1.600 orang di antara tahun 1945 sampai 1959.
Apa yang terjadi kemudian? Amerika menjadi bangsa yang maju di bidang teknologi, dan wajar akhirnya Negeri Paman Sam ini mendominasi penghargaan Nobel saat ini dan menerima atas hak kekayaan intelektual terbesar di dunia.
Data Bank Dunia tahun 2016 menunjukkan bahwa Amerika Serikat mencatat penerimaan dari hak atas kekayaan intelektual senilai US$ 126,2 miliar mengalahkan Belanda di posisi kedua dengan nilai US$ 42,8 miliar, dan Jepang di tempat ketiga dengan nilai US$ 36,6 miliar. Singapura satu-satunya wakil dari Asia Tenggara.
Yang jadi pertanyaan, apakah Indonesia perlu memodifikasi Operasi Paper Clips yang dilakukan Amerika, untuk memberikan kewarganegaraan Indonesia kepada ilmuwan-ilmuwan dunia yang tersisih dari kompetisi Nobel tersebut?
"Sepengetahuan saya, banyak ilmuwan yang disingkirkan karena mungkin ilmu mereka terlalu canggih. Kita, Indonesia bisa menampungnya, bagaimana dengan ide ini," tutup Ketua Bidang Ormas DPP Partai Golkar ini. ***