Bosscha Pastikan Hilal Ramadan 2026 Tak Terlihat, Sidang Isbat Kemenag Tetap Berjalan

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Minggu, 15 Februari 2026 | 11:10 WIB
Penentuan hilal Ramadan 2026. (f: ist)
Penentuan hilal Ramadan 2026. (f: ist)

 

LEMBANG, RIAUSATU.COM - Observatorium Bosscha memastikan hilal penentu awal Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi tidak mungkin terlihat pada Selasa, 17 Februari 2026.  

Analisis astronomis menunjukkan Bulan sudah berada di bawah ufuk saat Matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia. Kondisi ini membuat hilal mustahil diamati.  

Peneliti Bosscha, Yatni Yulianti, menjelaskan bahwa perhitungan posisi Bulan terhadap Matahari pada 29 Sya’ban 1447 H menghasilkan ketinggian negatif, antara −1,5 hingga −3 derajat.  

“Bulan terbenam lebih dahulu daripada Matahari, sehingga hilal mustahil diamati,” ujarnya, Sabtu (14/2), seperti rilis yang diterima riausatu.com

Kementerian Agama tetap menjadwalkan rukyatul hilal di 96 titik pengamatan di berbagai daerah. Agenda ini dilanjutkan dengan sidang isbat pada 17 Februari 2026 untuk menetapkan awal Ramadan.  

Namun, Observatorium Bosscha memutuskan tidak melakukan observasi pada tanggal tersebut. Pertimbangannya murni ilmiah: posisi Bulan tidak memenuhi syarat keterlihatan hilal.  

Meski demikian, Bosscha tetap menjadwalkan pengamatan pada 18 Februari. Fokusnya bukan pada penentuan awal Ramadan, melainkan pada riset ilmiah dan dokumentasi fase bulan muda.  

“Setiap tahun, hasil perhitungan dan pengamatan Bosscha siap disampaikan kepada instansi berwenang sebagai bahan pertimbangan sidang isbat,” tambah Yatni.  

Fenomena hilal selalu menjadi perhatian publik menjelang Ramadan. Di Indonesia, penetapan awal bulan Hijriah berada dalam kewenangan pemerintah melalui sidang isbat.  

Perbedaan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan langsung) sering kali menjadi bahan diskusi. Bosscha menekankan pentingnya data astronomi untuk memperkuat keputusan resmi.  

Data global juga menunjukkan tren serupa. Pada 17 Februari 2026, hilal Ramadan diperkirakan sulit terlihat di banyak negara Asia Tenggara.  

Beberapa wilayah di Timur Tengah pun menghadapi kondisi astronomis yang hampir sama, sehingga awal Ramadan kemungkinan besar ditetapkan serentak pada 18 Februari.  

Bosscha menegaskan bahwa pengamatan 18 Februari akan menjadi kesempatan penting untuk mendokumentasikan fase bulan muda.  

Data ini berguna bagi penelitian jangka panjang mengenai siklus bulan dan keterlihatan hilal di Indonesia, sekaligus memperkuat literasi astronomi masyarakat.  

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Evi Endri

Rekomendasi

Terkini

Tenang! Menkes Pastikan Harga Obat BPJS Tak Naik

Sabtu, 13 Juni 2026 | 20:08 WIB
X