JAKARTA, RIAUSATU.COM - Tokyo, ibukota Jepang, mencatat jumlah rawat inap harian terkait panas tertinggi sejak 2010 pada Rabu (22/7/2026).
Layanan darurat mencatat satu orang meninggal dunia dan empat orang dalam kondisi kritis.
Dinas Pemadam Kebakaran Tokyo mengatakan, 453 orang dilarikan ke rumah sakit pada Rabu, jumlah harian tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2010.
Jumlah pengerahan layanan darurat pada hari itu juga mencapai angka tertinggi dalam 63 tahun terakhir.
"Kami mendesak masyarakat untuk tetap terhidrasi dan menggunakan pendingin ruangan," kata juru bicara pemadam kebakaran, dikutip dari Channel News Asia, Kamis (23/7/2026), dilansir kompas.com.
"Sepertinya jumlah (pasien) meningkat seiring dengan kenaikan suhu. Sepertinya kemarin (Rabu) dan lusa, kita benar-benar melihat peningkatan yang signifikan," sambungnya.
Menurutnya, 18 orang dalam kondisi serius di prefektur Tokyo, rumah bagi sekitar 14 juta orang.
Di seluruh wilayah tengah Aichi, 116 orang dilarikan ke rumah sakit pada hari Rabu karena kondisi yang berkaitan dengan panas.
Pada hari yang sama, wilayah Mie, Gifu, dan Shizuoka mencatat suhu di atas 40 Celsius, menurut Badan Meteorologi Jepang (JMA).
Jepang memperkenalkan istilah baru tahun ini untuk menggambarkan panas di atas 40 Celsius yang disebut "kokushobi" atau "hari yang sangat panas".
Istilah baru ini dirancang untuk menarik perhatian publik yang lebih besar terhadap peringatan terkait cuaca panas, meskipun tidak memicu tindakan resmi apa pun secara nasional.
Setidaknya, enam lokasi lain mencatat suhu 39,8 Celsius pada Rabu.
Peringatan bahaya serangan panas diberlakukan hampir di seluruh negeri.
Petugas darurat mengatakan, setidaknya 14 orang telah meninggal karena penyebab terkait panas dalam seminggu terakhir.