Bukan Pemanasan, Bumi Malah Disebut Mengalami 'Pendidihan' Global

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Minggu, 19 Mei 2024 | 16:39 WIB
Ilustrasi pemanasan global. (f: kompas.com)
Ilustrasi pemanasan global. (f: kompas.com)

JAKARTA, RIAUSATU.COM - Baru- baru ini di sosial media banyak yang mengangkat isu mengenai Bumi memasuki era pendidihan global. Seperti apa pendidihan global yang dimaksud? 

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyatakan Bumi telah memasuki era pendidihan global, bukan hanya pemanasan global. Hal tersebut ditandai dengan rekor suhu terpanas yang terjadi secara berturut-turut pada tahun 2023. 

Beberapa bulan terpanas dalam sejarah tercatat terjadi di tahun tersebut, seperti:

* Juli 2023: Menjadi bulan terpanas sepanjang sejarah manusia. 

* Agustus 2023: Menjadi bulan Agustus dengan 3 bulan terpanas dan es laut Antartika di titik terendah. 

* September 2023: Menjadi bulan September terpanas dalam catatan sejarah. 

Istilah "pendidihan global" digunakan karena kenaikan suhu bumi yang jauh lebih ekstrem dibandingkan dengan pemanasan global biasa.  

WMO juga memperingatkan kemungkinan 66 persen bahwa, setidaknya dalam satu dari lima tahun ke depan, suhu global akan melebihi ambang batas 1,5 °C di atas tingkat pra-industri,  di atas ambang batas yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris. 

Akibat suhu yang tinggi, seperti dilansir kompas.com, terdapat banyak dampak pemanasan global yang terliat selama beberapa bulan terakhir seperti, kekeringan menjadi lebih intens dan parah, kebakaran hutan besar-besaran terjadi lebih awal dan di luar musim, kematian massal ikan dan pemutihan karang, dikutip dari Active Sustainability. 

Para ilmuwan menyingkapkan bahwa peningkatan emisi bahan bakar fosil dan kelambanan dalam menangani krisis iklim adalah faktor utama di balik pendidihan global ini. 

Situasi ini membunyikan alarm bahaya bagi seluruh umat manusia. Diperlukan tindakan global yang ambisius dan segera untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan mencegah konsekuensi yang lebih buruk. 

Langkah penanganan pendidihan global Sekejen PBB tersebut menghimbau para pemimpin “harus mengambil langkah dalam aksi iklim dan keadilan iklim”, khususnya mereka yang berasal dari negara-negara industri terkemuka G20, yang bertanggung jawab atas 80 persen emisi global. 

Guterres menyoroti perlunya target emisi nasional baru dari anggota G20 dan mendesak semua negara untuk berupaya mencapai emisi nol bersih pada pertengahan abad ini. 

PBB mengatakan, semua aktor harus bersatu untuk mempercepat transisi yang adil dan merata dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan, sekaligus menghentikan ekspansi minyak dan gas serta menghapuskan batubara pada tahun 2040.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

X