PEKANBARU, RIAUSATU.COM-Momen bulan suci ramadhan menjadi celah bagi oknum pedagang daging untuk menjual daging oplosan dan tidak sehat. Apalagi, tingkat konsumsi masyarakat selama ramadhan tinggi dan memudahkan mereka menjual daging oplosan untuk itu, masyarakat diminta untuk senantiasa waspada terhadap beredarnya daging sapi tidak Sehat di Pekanbaru.
Untuk itu, Kepala Distanak, El Syabrina melalui Kasi Pengelolah dan Pemasaran Hasil Peternakan (P2HP), drh Tito Reza Msi MH masyarakat harus waspada terhadap daging tidak sehat yang beredar. Ia juga mengingatkan masyarakat jangan segan untuk menanyakan surat kesehatan kepada penjual tentang asal daging dan surat kesehatan yang dikeluarkan rumah potong hewan (RPH).
''Apalagi ada banyak pintu masuk daging-daging dari luar daerah. Kalau sapi atau kerbau yang dipotong lewat RPH Pekanbaru pasti akan melewati proses pemeriksaan kesehatan. Sehingga daging sapi dijamin tidak terinfeksi penyakit seperti antraks yang sangat membahayakan tubuh manusia,'' ujarnya, dilansir riauterkini.com.
Agar masyarakat terhindar dari membeli daging busuk maka pastikan membeli daging dari penjual atau supplier daging yang mempunyai izin halal. ''Pilihlah pedagang yang menjual daging dengan cara digantung dan tidak membeli pada pedagang yang lingkungan, peralatan, dan orangnya kotor,'' kata.
Ia juga menyarankan masyarakat jangan gampang tergiur dengan Harga daging yang murah. Saat ini harga daging sapi di Pekanbaru berkisar Rp 110 ribu hingga Rp 120 ribu per kilogram. ''Jika terlalu murah sebaiknya jangan dibeli. Beli lah daging sesuai harga pasarannya,'' himbau Tito.
Pilihlah warna daging yang masih merah karena daging yang tidak sehat biasanya warna hitam kebiru-biruan. “Dari aroma dan tekstur daging bisa kita membedakannya,” sebutnya.
Terkait siasat pedagang mencampur daging sapi dengan celeng atau babi, Tito menyebutkan belum menemukan yang seperti itu. Apalagi saat ini sangat sulit membedakan daging celeng dengan daging sapi atau kerbau.
''Cara masyarakat membedakannya kalau hanya dengan organoleptik atau dengan kasat mata sangat susah membedakannya. Karena setelah sampai dipedagangkan penjual biasanya sudah mencampur,'' sebutnya.
Salah satu caranya lebih pasti kata Tito, harus melakukan pemeriksaan laboratorium dengan mengambil sampel yang ada. (dri)