Heboh Fenomena Solstis, BMKG: Masyarakat Tidak Perlu Khawatir

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Rabu, 21 Desember 2022 | 15:56 WIB
 Ilustrasi fenomena solstis. (f: Freepik/DCStudio/Pikiran.Rakyat)
Ilustrasi fenomena solstis. (f: Freepik/DCStudio/Pikiran.Rakyat)

JAKARTA, RIAUSATU.COM - Pengguna media sosial dihebohkan oleh beredarnya kabar mengenai bahaya fenomena Solstis hingga meminta masyarakat tidak beraktivitas di luar rumah hari ini, Rabu, 21 Desember 2022. Tapi fenomena itu baru akan terjadi pada Kamis (22/12/2022), sebagaimana disampaikan melalui unggahan akun Twitter @Lapan_RI.

Keterangan dari Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa atau Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional itu pun mematahkan kabar yang beredar di media sosial yang menyebutkan bahwa fenomena Solstis terjadi pada hari ini, Rabu, 21 Desember 2022.

"Solstis Desember terjadi pada 22 Desember pukul 04.49.14 WIB/ 05.49.14 WITA/ 06.49.14 WIT," katanya, dikutip pada Rabu, 21 Desember 2022.

Lantas, apa itu Solstis? Berikut penjelasannya seperti yang telah dirangkum oleh Pikiran-Rakyat.com.

Diketahui, Solstis merupakan fenomena astronomis biasa. Adapun, Solstis dapat dikatakan sebagai titik balik Matahari.

Solstis dapat dijelaskan sebagai sebuah peristiwa ketika Matahari berada paling Utara maupun Selatan ketika mengalami gerak semu tahunannya, relatif terhadap ekuator langit (perpanjangan atau proyeksi khatulistiwa Bumi pada bola langit).

Sebagai informasi, Solstis terjadi sebanyak dua kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Juni dan bulan Desember.

Pada bulan Juni, Solstis dapat disebabkan oleh sumbu rotasi Bumi yang miring 23,44 derajat terhadap bidang tegak lurus ekliptika (sumbu kutub utara-selatan ekliptika).

Adapun, saat Bumi melakukan rotasi yang juga sekaligus mengorbit Matahari, sehingga nantinya terkadang Kutub Utara dan Belahan Bumi Utara condong ke Matahari, sedangkan Kutub Selatan dan Belahan Bumi Selatan menjauhi Matahari.

Sementara, kondisi saat Solstis di bulan Desember yaitu terkadang Kutub Selatan dan Belahan Bumi Selatan condong ke Matahari, sedangkan Kutub Utara dan Belahan Bumi Utara menjauhi Matahari.

Dampak Solstis yang dirasakan oleh manusia pun tidak seekstrem yang dinarasikan oleh kabar-kabar yang belakangan ini beredar di media sosial.

"Sekalipun di hari terjadi solstis ini terjadi letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami maupun banjir rob, fenomena-fenomena tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan solstis dikarenakan solstis merupakan fenomena murni astronomis yang juga dapat memengaruhi iklim dan musim di Bumi," ujar keterangan di dalam situs Pusat Sains Antariksa LAPAN.

"Sedangkan fenomena-fenomena tersebut disebabkan oleh masing-masing dari aktivitas vulkanologis, seismik, oseanik dan hidrometeorologi," ucapnya melanjutkan.

Fenomena Solstis pun diprediksi akan terjadi lagi pada tahun 2023 mendatang pada bulan Juni dan Desember.

"Untuk tahun 2023, Solstis Juni terjadi pada 21 Juni pukul 21.57.29 WIB / 22.57.29 WITA / 23.57.29 WIT, sedangkan Solstis Desember terjadi pada 22 Desember pukul 10.27.23 WIB / 11.27.23 WITA / 12.27.23 WIT," tuturnya. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

X