JAKARTA, RIAUSATU.COM — Empat tahun sejak alih kelola dari PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) ke PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), kinerja produksi Blok Rokan dinilai belum menunjukkan lonjakan berarti.
Padahal, biaya operasi yang digelontorkan untuk mengejar target disebut mencapai miliaran dolar US.
Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman menyebut, strategi PHR justru membuat kondisi arus kas “berdarah-darah”.
Target produksi 400.000 barel per hari, sebagaimana diharapkan Presiden Joko Widodo saat meninjau Blok Rokan pada 5 Januari 2023, tidak tercapai.
“Ironisnya, kegagalan itu disertai kondisi keuangan yang tertekan akibat salah strategi peningkatan produksi. Keekonomian Blok Rokan jadi tekor,” ujar Yusri di Jakarta, Sabtu, 9 Agustus 2025.
Menurut Yusri, PHR melakukan pengeboran sekitar 1.600 sumur sejak masa transisi, dengan biaya rata-rata USD 2,5 juta per sumur.
Total investasi untuk pengeboran ini diperkirakan mencapai USD 4 miliar.
“PT CPI sejak lama menghindari pengeboran jor-joran di lapangan migas tua. Mereka lebih memilih Enhanced Oil Recovery (EOR) yang terbukti berhasil. PHR malah mengambil langkah sebaliknya,” katanya.
Selain itu, penggunaan teknologi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) dinilai tidak tepat dan membebani keuangan perusahaan hingga Rp5,18 triliun.
Nilai itu berasal dari persetujuan Plan of Development (PoD) Lapangan Minas dan Rantau Bais oleh SKK Migas.
“Pengujian CEOR di lapangan Minas hanya menghasilkan Recovery Factor sekitar 60 persen, jauh di bawah uji pada synthetic core yang bisa mencapai 90 persen,” ujar Yusri.
Yusri juga menyoroti pembangunan pipa Blok Rokan sepanjang 365 kilometer oleh PT Pertagas senilai USD 300 juta (sekitar Rp5 triliun) yang dinilainya bermasalah.
Beban ini, menurut dia, semakin memperburuk kondisi keuangan.
Dalam wawancara dengan CNBC Indonesia pada Mei 2025, Direktur Utama PHR Rubi Mulyawan enggan membeberkan capaian produksi semester I 2025 dan hanya menyebut target belum tercapai.