JAKARTA, RIAUSATU.COM - Media sosial akan menjadi media rujukan bagi pemilih muda dan pemilih pemula menjelang Pemilu 2024 yang akan digelar satu tahun lagi pada 14 Februari 2024. Tingginya keterikatan pemilih usia 17-39 tahun ini dengan media sosial membuat mereka ingin menentukan pilihan berdasarkan informasi yang didapatkannya dari sana.
Indikasi bahwa mereka lebih mempertimbangkan medsos untuk mendapatkan informasi ataupun menyampaikan sikap politik tergambar dari data survei dari Centre for Strategic International Studies (CSIS) pada akhir tahun lalu. Para pemilih muda lebih banyak yang melakukan aktivitas politik dengan cara menyampaikan pendapat melalui media sosial.
Data itu menunjukkan, terdapat 17,7 persen yang memanfaatkan medsos dan 6 persen yang menyampaikan pendapat secara langsung kepada pejabat publik atau anggota dewan. Sementara, hanya 2,4 persen yang mau memberikan donasi untuk kegiatan parpol.
Beberapa pemilih pemula yang ditanyakan berkaitan dengan pencarian informasi jelang Pemilu 2024 juga seluruhnya memilih medsos untuk mencari tahu tentang calon-calon yang akan dipilih. Mereka enggan untuk menghadiri kampanye terbuka untuk mempertimbangkan seorang kandidat.
Seperti yang dikatakan Marvin Bryan (18), mahasiswa, ia menuturkan, ia lebih suka mencari informasi melalui medsos karena lebih mudah. Meski, ia juga masih kuatir akan kekurangan informasi sehingga nantinya salah memilih.
Namun, faktor teknologi itu memang menjadi pertimbangan dia dalam menilai para calon.
"Karena harapannya, pemimpin masa depan adalah pemimpin yang melek teknologi dan dapat membawa Indonesia maju, makmur, dan aman," ujarnya, sebagaimana dilansir Pikiran-Rakyat.com.
Sementara, Ravi Alvaro (17), siswa SMA, ingin berpartisipasi dalam pemilu namun ingin memilih orang yang memiliki visi jangka panjang bahkan sampai 100 tahun ke depan. Karenanya, ia lebih suka mempertimbangkan setiap calon dari informmasi yang didapatnya melalui medsos supaya bisa menilai dengan baik.
Rachel Manik (17), siswa SMA, juga lebih suka memeriksa performa para calon serta kepribadiannya dari media sosial.
"Prefer dari medsos karena bisa diakses kapanpun di tengah jadwal yang sibuk," ucapnya.
Sementara Maulani (16), siswa SMA, juga memilih untuk mencari informasi melalui medsos. Melalui media itu, ia ingin mengenal para calon, melihat pendidikannya dan aktivitas politiknya, serta akan menentukan pilihan mana calon yang menurut dia piawai dalam politik luar negeri dan bisa mengurus negara dengan baik dan jujur.
Bukan hanya medianya, tapi juga kontennya
Keterikatan yang erat antara medsos dengan pemilih muda, yang di dalamnya ada generasi Z pemilih pemula, membuat setiap pihak yang terkait pemilu untuk mendekatinya dengan metode yang sama. Bukan hanya penyelenggara pemilu yang harus meningkatkan partisipasi pemilih, tetapi juga setiap parpol dan kandidat.