politik

Ketum DPP Bapera: Sejarah Persatuan Indonesia (Nusantara) Sudah Ada Sejak Zaman Dahulu

Selasa, 10 Januari 2023 | 22:27 WIB
Fahd El Fouz A Rafiq, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Barisan Pemuda Nusantara (Bapera).

ITALIA, RIAUSATU.COM – Indonesia punya Borobudur, Mesir punya Piramida, dan Italia punya Menara Pisa. Indonesia juga punya piramida bahkan sampai tertutup tanah, dan pohon piramid kuno itu lazim disebut situs Gunung Padang.

"Berdasarkan hasil penelitian, terungkap jika situs megalitikum ini dibangun pada tahun 5200 sebelum masehi (SM), lebih tua dari piramida di Mesir," ucap Fahd El Fouz A Rafiq, dalam rilisnya yang dikirim dari Italia melalui pesan WhatsApp, Selasa (10/1/2022).

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Barisan Pemuda Nusantara (Bapera) ini mengatakan sangat mengapresiasi sekali semangat yang dibangun bangsa ini, terutama yang dibuat raja-raja bersatu, demi Indonesia bersatu.

"Bayangkan yang mereka korbankan, bukan tanah satu meter akan tetapi satu daerah kekuasaannya, demi kebersamaan dan terwujudnya persatuan Indonesia," ungkap mantan Ketua Umum PP AMPG ini.

Raja Yogya, Solo, Cirebon, Lombok, Banjar, Bone, Banten, Aceh, Kutai, dan raja-raja lain itu mengatakan, 'Iya bung, kami bersatu untuk membuat bangsa baru bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berbeda-beda tetapi tetap satu jua.'

"Jadi, hebat para sesepuh kita, sekumpulan orang-orang besar dan bangga mengatakan: kami atas nama bangsa Indonesia. Untuk mengukur bangsa Indonesia, kita mesti mundur ke belakang, bahwa bangsa ini bukan sesuatu yang sederhana, dan tiba-tiba menjadi seperti ini," sebutnya.

Fahd menuturkan, jauh sebelum ada perang agama di negara lain, ratusan tahun lalu (sekitar tahun 800) di Bumi Nusantara sudah ada perang besar antara wangsa Sanjaya (Hindu) dan wangsa Syailendra (Budha).

Wangsa Sanjaya dipimpin Garung dan wangsa Syailendra dipimpin Balaputera Dewa. Lalu, ada Panukuh (Gunadarma) pergi ke India belajar ilmu arsitektur, di mana akhirnya perang itu dimenangkan oleh wangsa Syailendra (Budha).

Ketika ingin membuat candi, arsiteknya orang Hindu. Dan dibangunlah candi Budha besar, yaitu Candi Sambarabudhura arsiteknya orang Hindu. Ketika membangun candi anaknya Raja Samaratungga yang bernama Pramudawardhani jatuh cinta (padahal bapaknya anti hindu) sama orang hindu, dan akhirnya dinikahkan antara anak raja Budha dengan orang Hindu. Akhirnya, Panukuh mendapat gelar Rakai Pikatan.

"Dari cerita di atas kita bisa mengambil kesimpulan, sudahi konflik politik yang mengusung kebencian antar etnis, suku, dan agama. Perbedaan itu biasa, jangan terlalu serius, khawatirnya nanti anak-anak kita saling jatuh cinta," sebut Fahd.

Di lain sisi, Hindu dibikinkan candi bernama Prambanan di bawah asuhan Loka Pala anaknya Rakai Pikatan, dan akhirnya bangsa ini rukun. Hebatnya, bangsa Nusantara itu mampu menyatukan sesuatu yang berbeda.

Pindah ke Palembang, ujar Fahd, Sriwijaya menjadi besar dan tidak ada perang agama. Kemudian, dibangunlah Kerajaan Singasari, tidak ada lagi ribut soal agama. Dua kerajaan ini, akhirnya menjadi bangsa besar.

Begitu pula zaman Majapahit, semuanya saling rukun saling jaga. Yang Hindu jaga Budha, yang Budha jaga Hindu. Akhirnya, dirukunkan oleh pujangga besar Empu Tantular, menulis kitab Sutasoma dan di situ ada kalimat dikenal dengan Bhineka Tungga Ika. Jadi, kerukunan bangsa ini sudah ada sejak zaman dahulu.

Maka dari itu, kata Fahd, jangan disalahkan kalau ada ormas jaga gereja, ada pecalang jaga masjid, jangan disalahkan karena itulah warisan asli bangsa Indonesia.

"Ketika Islam datang ke Nusantara, sudah ada pelajaran-pelajaran yang sudah jadi di bumi Nusantara, di sana diajarkan wala yahuddu ala toamil miskin, di sini sudah ada mangan ora mangan ngumpul," ungkapnya.

Halaman:

Tags

Terkini