.JAKARTA, RIAUSATU.COM - Pemilu 2024 diharapkan melibatkan semakin banyak masyarakat yang merupakan pemilih rasional. Masyarakat pemilih berpartisipasi bukan hanya dengan pertimbangan rasional terhadap materi kampanye partai atau kandidat, melainkan juga rasional dalam menyaring informasi yang beredar di media internet.
Media internet, termasuk media sosial, merupakan instrumen kampanye yang paling diminati peserta pemilu maupun masyarakat pemilih. Namun, instrumen itu pun harus disaring supaya masyarakat tidak terpengaruh berita bohong dan kampanye hitam.
Terlebih pemilih muda usia 17-39 tahun, mereka adalah pemilih yang paling banyak menghimpun informasi dari internet. Berdasarkan hasil survei Centre for Strategic and International Studies akhir tahun 2022, pemilih muda paling menyukai aktivitas politik yang disampaikan melalui media sosial dibandingkan aktivitas politik lain, seperti bertemu langsung pejabat publik ataupun berinteraksi dengan parpol.
Akan tetapi, konten hoaks sendiri bertebaran di medsos. Kementerian Komunikasi dan Informatika bahkan menyatakan telah memberantas ribuan konten hoaks yang berkaitan dengan politik hingga 4 Januari 2023. Padahal, tahapan pemilu 2024 masih akan panjang dilalui setidaknya sampai pemungutan suara pada 14 Februari 2024.
Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate, menyatakan pada awal Januari 2023, konten hoaks politik yang diberantas mencapai 1.321 konten. Ia pun mengharapkan masyarakat tidak menyebarkan informasi bersifat post truth, baik hoaks maupun hate speech.
Bila dibandingkan dengan pemilu 2019, dua bulan menjelang pemungutan suara yaitu pada April 2019, Kominfo menjaring 771 konten hoaks. Konten itu pun merupakan akumulasi dari proses penjaringan selama 7 bulan.
Pengamat politik dari Universitas Padjadjaran, Firman Manan, mengatakan, pemilih memang harus mencari info sebanyak-banyaknya sebelum menentukan pilihan. Namun, langkah yang juga penting adalah menyaring seluruh informasi itu.
"Teman-teman pemilih muda akan banyak akses medsos dan media online terkait pemilu. Tetapi, banyak beredar juga informasi yang tidak benar, hoaks, yang memicu konflik, kampanye hitam, fitnah terhadap partai atau kandidat tertentu, itu harus hati-hati. Cari informasi sebanyak-banyaknya, tapi harus punya kemampuan untuk memfilter," ucapnya, dilansir Pikiran-Rakyat.com.
Salah satu cara, kata dia, masyarakat harus mencari info pembanding dari sumber lain. Masyarakat harus memiliki sikap skeptis tidak mudah percaya ketika mendapatkan informasi dari media internet. Informasi jangan "ditelan bulat-bulat", melainkan harus terbiasa mencari informasi pembanding.
Selain itu, masyarakat juga bisa menyaring kebenaran informasi dengan diskusi bersama rekannya yang lain. Masyarakat pemilih bisa juga bertanya ke figur-figur yang memiliki kapasitas untuk memberikan informasi yang bisa dipercaya.
"Kalau itu dilakukan, paling tidak masyarakat pemilih, apalagi pemilih muda memiliki bekal informasi yang cukup dan relatif valid. Sehingga, mereka akan tertarik untuk berpartisipasi dalam pemilu, serta melakukan partisipasi yang efektif didasarkan oleh info yang cukup dan reliable. Itu membuat mereka menjadi pemilih yang rasional," tutur Firman.
Kampanye udara untuk mendukung kampanye di darat
Peserta pemilu 2024 pun saat ini gencar untuk menggunakan media internet, terutama medsos untuk berkampanye. Kampanye medsos itu digunakan untuk melengkapi kampanya yang dilakukan langsung ke masyarakat.
Menurut Wakil Ketua DPD PDIP Jawa Barat, Abdy Yuhana, kampanye melalui medsos yang disebutnya sebagai kampanye udara dimanfaatkan untuk menginformasikan tahapan pemilu dan memperlihatkan kinerja partai yang dilakukan kepada masyarakat. Namun, selain itu, medsos juga digunakan untuk mengajak pemilih cerdas dengan menghindari hoaks dan kampanye hitam.
"PDIP mendorong agar rekan-rekan partai melakukan aktivitas yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Apalagi sekarang kita baru saja menghadapi pandemi Covid-19, sekarang bisa langsung bertemu masyarakat, advokasi, menyerap aspirasi, kemudian melakukan hal-hal yang harus memiliki korelasi dengan kepentingan masyarakat," kata Abdy yang juga anggota DPRD Jabar itu.
Namun, ia mengakui bahwa saat ini medsos adalah sarana yang paling efektif untuk berkampanye. Jadi, medsos digunakan untuk menyampaikan aktivitas partai sehingga kedua strategi itu dijalankan secara simultan.