Sebesar Rp193,55 triliun berasal dari KPR subsidi dan Rp112,56 triliun dari KPR komersial.
Dari jumlah tersebut, kredit bermasalah mencapai Rp8,51 triliun atau setara 2,78 persen dari total portofolio KPR.
Secara umum angka itu memang masih berada di bawah batas 5 persen yang digunakan regulator sebagai indikator kesehatan kredit.
Tetapi persoalannya tidak sesederhana itu.
Jika dipisahkan berdasarkan segmen, rasio kredit bermasalah KPR komersial BTN telah mencapai 5,2 persen.
Angka itu naik dari 4,9 persen pada Maret tahun sebelumnya dan telah melewati batas yang lazim dianggap sehat dalam industri perbankan.
Nilai kredit bermasalah pada segmen komersial kini mencapai sekitar Rp5,8 triliun.
Dalam satu tahun terakhir, nilainya bertambah sekitar Rp570 miliar.
Sebaliknya, kualitas KPR subsidi justru menunjukkan perbaikan.
Rasio NPL KPR subsidi turun menjadi 1,4 persen atau sekitar Rp2,7 triliun.
Meski demikian, BTN tetap menjadi penyumbang terbesar kredit perumahan bermasalah nasional.
Dari total NPL KPR industri perbankan sebesar Rp26,95 triliun per Maret 2026, sekitar 31,5 persen berasal dari BTN.
BERITA SEBELUMNYA:
Temuan yang Mengarah ke Karawang