SUBANG, RIAUSATU.COM — Puluhan anak dari keluarga kurang mampu di Desa Parigi Mulya, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang, mengikuti kegiatan sunatan massal gratis pada Ahad lalu, 29 Maret 2026.
Program ini menjadi solusi nyata di tengah keterbatasan biaya dan akses layanan kesehatan.
Bagi masyarakat kecil, khitan sering kali tertunda karena faktor ekonomi. Kehadiran kegiatan sosial ini memberi kesempatan yang sudah lama dinantikan oleh banyak orang tua.
Mantri Surangga Jaya, akrab disapa Mantri Rangga atau dikenal sebagai “Mantri Viral”, menegaskan bahwa kebutuhan masyarakat tidak bisa hanya dijawab dengan wacana. Ia menekankan pentingnya aksi nyata di lapangan.
“Masih banyak warga yang belum mampu membiayai khitan anaknya. Karena itu kegiatan seperti ini harus terus ada, bukan hanya sekali,” ujarnya.
Program berbasis kebutuhan langsung seperti sunatan massal dinilai sebagai solusi cepat bagi masyarakat yang belum terjangkau layanan kesehatan formal.
Camat Cipunagara, Aris Ristian, ST., M.Si., memberikan apresiasi atas kegiatan ini. Menurutnya, kolaborasi sosial semacam ini patut diperkuat agar manfaatnya semakin luas.
“Ini sangat membantu masyarakat. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak warga yang membutuhkan,” katanya.
Di balik keberhasilan acara, tersirat realitas adanya kesenjangan akses layanan dasar. Hal ini dirasakan langsung oleh warga seperti Casiah dari Parigi 2, yang anaknya ikut serta dalam program.
“Alhamdulillah, sangat bersyukur ada sunatan massal ini. Sangat membantu kami. Kalau tidak ada, mungkin harus menunggu lagi karena biaya,” ungkapnya.
Kegiatan ini bukan hanya soal layanan kesehatan gratis, tetapi juga bukti bahwa semangat gotong royong masih menjadi penopang utama masyarakat kecil.
Selain program massal, Mantri Rangga juga membuka layanan rumah sunat mandiri. Menariknya, bagi anak yatim piatu dan keluarga kurang mampu, layanan tersebut diberikan gratis tanpa biaya.
Langkah ini memperlihatkan komitmen sosial yang konsisten, bukan sekadar agenda insidental. Warga berharap gerakan nyata seperti ini terus berlanjut.
Sunatan massal di Cipunagara menjadi simbol bahwa kepedulian sosial mampu menjembatani keterbatasan ekonomi dan akses layanan kesehatan.
Program ini juga menegaskan bahwa kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat dapat menghadirkan solusi cepat bagi kebutuhan dasar.