Konflik seperti di Siabu adalah potret buram dari implementasi kebijakan perkebunan di Indonesia.
Di satu sisi, investasi skala besar digalakkan atas nama pembangunan.
Di sisi lain, masyarakat adat dan lokal kerap menjadi korban, kehilangan akses terhadap tanah yang diwariskan secara turun-temurun.
Pertanyaannya kini: sampai kapan janji plasma hanya akan menjadi selembar kertas?
Dan sampai kapan suara warga seperti di Siabu akan terus dibungkam pagar tinggi dan rapat-rapat tertutup? ***