PEKANBARU, RIAUSATU.COM — 'Kursi panas' Direktur Utama PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) kembali berputar.
Dalam manuver cepat di lingkaran manajemen Pertamina, Muhammad Arifin resmi mengambil alih tongkat komando PHR, sementara Ruby Mulyawan digeser ke PT Pertamina EP Cepu (PEPC).
Praktis, dua dirut saling bertukar posisi dalam waktu bersamaan.
Pergantian tersebut memunculkan tanda tanya di kalangan internal migas: evaluasi kinerja, strategi penyegaran, atau dinamika politik korporasi?
Namun sejauh ini belum ada penjelasan resmi terkait alasan pertukaran dua pucuk pimpinan strategis tersebut.
Yang terang, PHR—operator Wilayah Kerja (WK) Rokan sejak 9 Agustus 2021—sedang berada di bawah sorotan publik terkait isu keselamatan kerja, capaian produksi, dan kesiapan roadmap investasi jangka panjang.
Rotasi dirut dalam momen strategis ini pun menambah spekulasi.
Rekam Jejak Muhammad Arifin
Sosok yang kini memimpin PHR, Muhammad Arifin, bukan nama baru di sektor hulu.
Dilansir dari pepc.pertamina.com, pria kelahiran Jakarta, 26 April 1974 itu merupakan lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung dan magister Teknik Metalurgi & Material Universitas Indonesia.
Kariernya menanjak sejak 1998 ketika memulai tugas sebagai Supervisor Production Banowati Plant CNOOC SES Ltd.
Sejak itu ia memegang sejumlah jabatan penting di tubuh Pertamina, di antaranya:
-
Operation Senior Manager PHE West Madura Offshore (2019)