Kapolda Riau Irjen Herry Herjawan dan Gubernur Jadi Saksi di Prosesi Anugerah Adat kepada Kapolri

photo author
Daud Mahmud, Riau Satu
- Sabtu, 12 Juli 2025 | 14:28 WIB

 

 

PEKANBARU, RIAUSATU.COM - Prosesi pemberian Anugerah Adat Ingatan Budi kepada Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo dari Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) berlangsung khidmat, Sabtu 12 Juli 2025.

Didampingi Kapolda Riau Irjen Pol Herry Herjawan dan Gubernur Riau Abdul Wahid, Kapolri mendengarkan eluk-elukan masyarakat adat yang memenuhi acara tersebut.

Pemberian Anugerah Adat Ingatan Budi digelar di Balairung Tenas Effendy Balai Adat LAM Riau. Jenderal Sigit, Irjen Herry Herjawan, dan Abdul Wahid duduk di tempat prosesi adat (di depan peterakna).

Prosesi berlangsung khidmat diawali dengan pembacaan doa. Selanjutnya, Kapolri mendengarkan syair yang berisi tentang kinerja Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo yang dibacakan oleh Puan Siska Armizka.

Selanjutnya, prosesi dilanjutkan dengan mendengarkan elu-eluan oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Harian (DPH) LAMR Datuk Seri H Taufik Ikram Jamil. Ia menyampaikan makna dalam pemberian Anugerah Adat Ingatan Budi terhadap Kapolri ini.

"Bahwa budi adalah serangkaian kemampuan kognitif, yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pertimbangan, dan ingatan manusia dan organis lain yang menjadi penggerak bagi peradaban," kata Datuk Seri H Taufik Ikram Jamil.

Dalam alam Melayu, budi mengandung tingkah laku yang halus, toleransi, penghargaan, baik, terouji, empati, bahkan ketika syair bicara ia mewujud bersama-sama.

"Jadi dalam budaya Melayu Riau, budi menempati suatu wilayah yang istimewa," jelasnya.

Kata budi itu sendiri memiliki makna mendalam sebagai sosok yang melewati jangkauan tempat dan waktu. Kata ini mengiringi sesuatu yang nyata dalma kehidupan sehari-hari di mana saja, tetapi kekal mewujud sepanjang waktu.

"Kata budi, termasuk kata asli Melayu yang tidak pernah diubah suaikan ke dalam bahasa lain, sebagaimana yang banyak ditemukan dalam kosakata Melayu," sambung Datuk Seri H Taufik Ikram Jamil.

Karena budi bukan hanya tanda, tetapi juga suatu konsep.

"Itulah makanya muncul pisang emas bawa berlayar, simpan sebiji di atas peti, hutang emas dapat dibayar, utang budi dibawa mati," ungkapnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Daud Mahmud

Tags

Rekomendasi

Terkini

BMKG: Hujan Masih Berpotensi Mengguyur Riau

Selasa, 26 Mei 2026 | 11:05 WIB
X