“Pertanian Indonesia membutuhkan model yang tidak hanya memberikan akses lahan, tetapi juga memastikan tersedianya teknologi, modal usaha, hingga distribusi hasil panen. Tanpa itu, produktivitas petani akan sulit meningkat secara berkelanjutan,” kata Rinaldi.
Ia menilai Brigade Pangan memiliki potensi untuk menjawab sebagian persoalan tersebut karena mendorong penggunaan alat dan mesin pertanian modern serta membangun pola kerja kolektif di kalangan petani muda.
Sebagai tindak lanjut dari gagasan tersebut, STN menawarkan diri untuk menjalankan peran sebagai Social Agribusiness Operator (SAO).
Melalui konsep ini, STN tidak hanya berfungsi sebagai organisasi petani, tetapi juga sebagai penghubung antara kebijakan pemerintah dan pelaksanaannya di tingkat lapangan.
Rinaldi menjelaskan, Social Agribusiness Operator dirancang untuk memastikan setiap program pembangunan pertanian dapat dijalankan secara efektif dan terukur.
Model ini juga bertujuan mengintegrasikan rantai nilai pangan dari proses produksi, pengolahan, hingga pemasaran sehingga manfaat program pemerintah dapat dirasakan langsung oleh petani.
“STN tidak ingin diposisikan hanya sebagai penerima bantuan. Kami ingin menjadi bagian dari solusi dengan membantu menghubungkan seluruh mata rantai pertanian agar kebijakan yang dibuat pemerintah benar-benar sampai dan dirasakan petani,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Aneka Kacang dan Umbi Kementerian Pertanian, Dyah Susilokarti, menyambut positif berbagai masukan yang disampaikan STN.
Meski menegaskan bahwa program Brigade Pangan berada dalam kewenangan direktorat lain, ia menyatakan siap meneruskan hasil diskusi tersebut kepada pihak terkait.
Menurut Dyah, keterlibatan organisasi masyarakat yang memiliki pengalaman langsung mendampingi petani dapat menjadi masukan berharga bagi pemerintah dalam menyempurnakan berbagai program pembangunan pertanian.
“Mudah-mudahan pada kesempatan berikutnya, ketika ada forum yang membahas Brigade Pangan atau program terkait lainnya, STN dapat ikut hadir untuk menyampaikan pandangan dan pengalamannya secara langsung,” katanya.
STN berharap gagasan Social Agribusiness Operator dapat menjadi salah satu alternatif dalam memperkuat pembangunan pertanian nasional.
Dengan menggabungkan kekuatan organisasi masyarakat sipil dan pendekatan agribisnis yang profesional, model tersebut diyakini mampu mempercepat terwujudnya pertanian yang produktif, modern, dan berpihak pada kesejahteraan petani. ***