Berdasarkan dokumen administrasi perusahaan yang dipaparkan CELIOS, modal dasar PT Ormat Geothermal Indonesia tercatat Rp13,98 miliar dengan modal ditempatkan dan disetor sebesar Rp3,49 miliar.
Komposisi saham menunjukkan mayoritas kepemilikan berada pada ORDA Services Inc., sementara sebagian kecil dimiliki PT Wahana Harapan Cipta.
Struktur tersebut dinilai mencerminkan dominasi entitas asing dalam perusahaan tersebut.
Secara manajerial, jajaran direksi dan komisaris diisi oleh sejumlah profesional, termasuk Presiden Direktur Ir Murdiono dan Komisaris Elad Jehuda Zalkin.
Dampak Lingkungan dan Respons Publik
Selain isu afiliasi global, CELIOS bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) juga menyoroti potensi dampak ekologis proyek geothermal di Halmahera Barat.
Isu yang diangkat antara lain perubahan tata guna lahan, pembukaan akses jalan, serta potensi gangguan terhadap kawasan hutan dan pesisir.
Proyek Telaga Ranu disebut berpotensi berdampak pada enam desa di sekitarnya.
Para peneliti mengingatkan agar agenda transisi energi dan target Net Zero Emission 2060 tetap mempertimbangkan prinsip kehati-hatian lingkungan serta perlindungan hak masyarakat lokal.
Pemerintah sendiri menegaskan bahwa pengembangan panas bumi merupakan bagian dari strategi percepatan energi baru terbarukan guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Dengan demikian, perdebatan yang muncul tidak hanya menyentuh isu geopolitik, tetapi juga menguji konsistensi tata kelola energi, transparansi kepemilikan, serta keseimbangan antara kepentingan nasional dan kebutuhan investasi dalam transisi energi. ***