nasional

Polemik Pemekaran Luwu Raya Memanas, Warganet Terbelah Soal Aksi Penutupan Jalan

Rabu, 28 Januari 2026 | 19:36 WIB
Polemik pemekaran Luwu Raya memanas. (f: Ist)

 

MAKASSAR, RIAUSATU.COM - Polemik pemekaran Luwu Raya menjadi sebuah daerah otonom kembali memanas di ruang publik, khususnya media sosial.

Sejumlah unggahan warganet menyoroti sikap Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, di tengah aksi dan dampak kemacetan panjang yang dialami masyarakat Tana Luwu akibat penutupan jalan.

Salah satu unggahan yang ramai dibagikan berasal dari akun Facebook Sulaiman Hasli Tangarang. Dalam unggahannya, ia membandingkan kondisi masyarakat yang harus mengantre berhari-hari di jalan dengan aktivitas Gubernur Sulsel yang terlihat santai makan pizza.

“Pak Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman dengan santainya makan pizza, sedangkan masyarakat yang melintas di Tana Luwu mengantre berkepanjangan berhari-hari. Seperti inikah pemimpin yang andalan Sulsel?” tulisnya.

Unggahan tersebut menuai ribuan reaksi dan ratusan komentar dengan pandangan yang saling bertolak belakang.

Sebagian warganet menilai unggahan itu berlebihan dan menilai tidak ada hubungan langsung antara aktivitas pribadi gubernur dengan aksi penutupan jalan.

“Apa salahnya kalau makan pizza, siapa tahu ada yang ulang tahun pegawainya, baru Pak Gub diajak makan pizza,” tulis akun Ardan M. Prasetya dalam kolom komentar.

Pendapat serupa juga disampaikan akun Citra Arfiah yang menilai kritik tersebut lebih bernuansa emosional.

“Ada juga orang iri makan pizza, terserah beliaulah mau makan apa, sama-sama juga manusia,” tulisnya, dalam rilis yang diterima riausatu.com.

Namun di sisi lain, tidak sedikit warganet yang justru mengkritik aksi penutupan jalan dalam tuntutan pemekaran Luwu Raya. Mereka menilai cara tersebut justru merugikan masyarakat luas.

“Yang salah warga Luwu sendiri kenapa jalan ditutup menyebabkan mengantre berkepanjangan berhari-hari. Belajarki dari waktu pemekaran Sulbar,” komentar akun Aslam Yapim.

Nada kritik yang lebih keras datang dari akun Yusuf Turatea. Ia menyebut pemblokiran jalan sebagai tindakan yang tidak tepat dalam menyampaikan aspirasi pemekaran daerah.

“Kalau mau pisah dibicarakan baik-baik, bukan dengan cara memblokade jalan poros. Itu tindakan orang frustasi, kasi susah orang lain,” tulisnya.

Sementara itu, komentar bernada satire juga muncul dalam perdebatan tersebut. Akun Ardii S menulis,

Halaman:

Tags

Terkini

Monumen SMSI Menjadi Salah Satu DTW di Cilegon

Sabtu, 30 Mei 2026 | 17:51 WIB

BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik

Jumat, 29 Mei 2026 | 21:15 WIB