nasional

Awas! Penyakit Mengintai Korban Banjir Sumatera

Kamis, 4 Desember 2025 | 09:00 WIB
Sejumlah warga melintas di dekat puing-puing yang terbawa arus banjir di kawasan Desa Bukit Tempurung, Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (3/12/2025). (f: antara foto/kompas.com)

JAKARTA, RIAUSATU.COM  - Banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatera telah merusak banyak lini kehidupan masyarakat, kini penyakit juga mengintai korban-korban yang bertahan di pengungsian.

Bencana ini menyebabkan banyak korban jiwa, warga yang terpaksa mengungsi, serta kerusakan parah pada jalan, jembatan, akses pendidikan, dan layanan publik lainnya.

Data per sore 3 Desember 2025 ini, jumlah korban tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, bertambah menjadi 770 orang.

"Dan korban hilang yang masih dalam pencarian 463 jiwa," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam jumpa pers virtual, Rabu (3/12/2025), dilansir kompas.com.

Sementara itu, jumlah penduduk yang terdampak mencapai 1,6 juta di Sumatera Utara, 1,5 juta di Aceh, dan 140.500 warga Sumatera Barat.

Dengan demikian, total masyarakat di tiga provinsi yang terdampak bencana sebanyak 3,2 juta jiwa yang tersebar di 50 kabupaten.

Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BNPB juga mencatat ratusan rumah warga di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara rusak akibat dihantam banjir dan tanah longsor.

"3.300 Rumah rusak berat, 2.100 rumah rusak ringan, dan 4.900 rusak ringan," tulis data Pusdatin BNPB.

Kemudian, banjir bandang dan tanah longsor mengakibatkan sejumlah fasilitas umum yang rusak, termasuk fasilitas pendidikan dan tempat ibadah.

"Jembatan 45,48 persen mengalami kerusakan, fasilitas ibadah 20,21 persen, fasilitas pendidikan 32,92 persen, dan fasilitas kesehatan 1,38 persen," tulis Pusdatin BNPB.

Abdul melaporkan bahwa jalur transportasi ke Pidie Jaya, Aceh, yang terdampak banjir dan longsor kini sudah normal untuk dilintasi.

Akses Aceh Utara-Aceh Timur sudah bisa dilewati meski masih ada genangan.

Lalu, akses Aceh Utara-Bener Meriah hanya bisa dilalui secara terbatas, yakni oleh kendaraan roda dua saja.

"Ada beberapa jalur transportasi yang kami dapat sampaikan, bahwa ke Pidie Jaya itu sudah normal dapat dilalui. Kemudian Aceh Utara ke Aceh Timur bisa dilewati meski masih ada genangan," ujarnya.

Sedangkan untuk jalur Aceh Tamiang-Langkat, Abdul memastikan aksesnya sudah normal, meski masih ada genangan.

Namun, dia menekankan bahwa truk BBM dan logistik sudah bisa masuk ke Langkat dan Aceh Tamiang.

"Aceh Tamiang-Langkat ini berangsur normal meski masih ada genangan, tapi BBM dan truk logistik itu sudah bisa melalui kawasan akses darat, Langkat-Aceh Tamiang," imbuhnya.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan dua penyakit yang berpotensi meningkat setelah bencana yang terjadi di Aceh-Sumatera.

Dua penyakit tersebut adalah demam berdarah dengue (DBD) dan leptospirosis atau infeksi bakteri.

"Kondisi pasca-banjir berpotensi menyebabkan meningkatnya kasus DBD dan leptospirosis," kata Kepala Pusat Krisis Kesehatan Agus Jamaludin, dikutip dalam keterangannya, Rabu (3/12/2025).

Agus menjelaskan, kasus DBD berpotensi meningkat akibat air sisa banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar yang menjadi sarang nyamuk.

Sedangkan leptospirosis bisa disebabkan oleh urine tikus yang mengkontaminasi air yang berada di pengungsian.

Kondisi di daerah terdampak perlu diwaspadai, tidak hanya terhadap penyakit yang sudah muncul, tetapi juga potensi penyebaran penyakit lain setelah banjir.

Pasalnya, saat ini Kemenkes telah mencatat ada 376 kasus demam dari lima kabupaten di Sumbar, yakni Pasaman, Pasaman Barat, Agam, Pesisir Selatan, dan Tanah Datar pada periode 25–29 November 2025.

Keluhan kesehatan lain banyak dilaporkan, meliputi myalgia (nyeri otot) 201 kasus, gatal 120 kasus, dispepsia (gangguan pencernaan) 118 kasus, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) 116 kasus, hipertensi 77 kasus, luka 62 kasus, sakit kepala 46 kasus, serta diare dan asma masing-masing 40 kasus.

"Di Sumatera Utara, pola serupa juga terjadi. Di Kabupaten Tapanuli Selatan tercatat ada 277 kasus demam, diikuti myalgia 151 kasus," ujar dia.

Warga Sumut juga mulai merasakan gatal-gatal yang tercatat ada 150 kasus, dispepsia 94 kasus, ISPA 96 kasus, hipertensi 75 kasus, luka-luka 45 kasus, sakit kepala 23 kasus, diare 23 kasus, dan asma 3 kasus pada periode 25 November–1 Desember 2025.

Sementara itu, Aceh menunjukkan pola berbeda. Rata-rata para korban mengeluhkan perihnya luka-luka dan disusul ISPA.

"Dari data di Kabupaten Pidie Jaya pada 25–30 November 2025, keluhan tertinggi ialah luka-luka 35 kasus, disusul ISPA 15 kasus dan diare 6 kasus," ujar Agus.***

Tags

Terkini

Penguatan AD/ART, PWI Pusat Sosialisasi Lima PO

Kamis, 16 Juli 2026 | 09:20 WIB