JAKARTA, RIAUSATU.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan daftar wilayah berpotensi dilanda hujan lebat dan angin kencang pada Jumat (29/8/2025) dan Sabtu (30/8/2025).
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi banjir, tanah longsor, genangan, dan gangguan transportasi dalam beberapa hari ke depan.
“Pantau selalu informasi resmi BMKG, bersihkan saluran drainase di lingkungan, dan sesuaikan rencana aktivitas dengan prakiraan cuaca,” terang BMKG dikutip dari laman resminya, dilansir kompas.com
“Nelayan serta pengguna jasa penyeberangan agar memperhatikan peringatan angin kencang dan gelombang tinggi di wilayah perairan masing-masing,” sambungnya.
BMKG menyampaikan, terdapat potensi pembentukan awan hujan signifikan yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam sepekan mendatang.
“Kondisi ini dipicu oleh interaksi faktor atmosfer skala global, regional, hingga lokal yang mempertahankan atmosfer dalam keadaan labil dan mendukung perkembangan awan konvektif,” jelas BMKG.
“Akibatnya, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat berpeluang terjadi di berbagai wilayah,” sambungnya.
Salah satu faktor skala global, Dipole Mode Index (DMI) −0,91 menunjukkan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif lemah yang cenderung meningkatkan pasokan uap air ke Indonesia bagian barat.
Faktor skala global lainnya, Nino 3.4 −0,22 (netral) dan Southern Oscillation Index (SOI) +2,0 (netral) tidak memberikan penguatan pembentukan awan yang berarti.
BMKG menyebut, kini terdapat Madden–Julian Oscillation (MJO) fase 3 yang mendukung konveksi di Indonesia bagian barat dan tengah.
Kemudian, beberapa hari ke depan, MJO diperkirakan menguat dan bergeser ke fase 4, semakin mendekati wilayah Indonesia.
Pada skala regional, potensi hujan diperkuat oleh gelombang Kelvin, Rossby Ekuator, dan Mixed Rossby Gravity (MRG) yang aktif di beberapa wilayah.
Selain itu, gelombang berfrekuensi rendah (low frequency) persisten di sejumlah wilayah Indonesia.
Kondisi ini sejalan dengan anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif dan Sea Surface Temperature (SST) yang lebih hangat di sejumlah perairan.
“Faktor penguat lain adalah sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Sumatera dan Samudra Pasifik utara Papua Barat,” ungkap BMKG.